Kamis, 07/02/2013 16:12 WIB

Kejaksaan Gandeng Polri untuk Eksekusi Buronan Anand Krisna

Salmah Muslimah - detikNews
Anand Krisna. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Terpidana kasus pelecehan seksual, Anand Krishna resmi ditetapkan sebagai buron oleh Kejaksaan Negeri Jalarta Selatan. Anand Krishna masuk dalam daftar pencarian orang akibat beberapa kali mangkir dari upaya eksekusi jaksa.

Sejak Desember 2012, Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan telah tiga kali memanggil Anand, namun yang bersangkutan tak kunjung datang. Hingga Februari ini, Kejaksaan masih berupaya melakukan eksekusi dan sudah berkoordinasi dengan Polri.

"Anand Khrisna masih diupayakan terus eksekusinya. Sudah berkoordinasi dengan instansi terkait yaitu Polri," kata Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Masyhudi, saat dihubungi detikcom, Kamis (7/2/2013).

Masyhudi mengatakan kesulitan yang dihadapi dalam eksekusi kali ini karena Anand terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

"Yang bersangkutan di daerah mana masih terus diidentifikasi, karena ada informasi yang bersangkutan pindah-pindah," ujar Masyhudi.

Masyhudi menambahkan meskipun sudah berstatus buron, Anand tidak akan kabur ke luar negeri karena sudah dilakukan pencekalan. Meski tidak menyebut kapan pastinya pencekalan terhadap Anand dilakukan, Masyhudi sudah memastikan pencekalan.

Seperti diketahui, Anand ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap salah seorang muridnya, Tara. Lalu Anand dijadikan tersangka dalam kasus tersebut dan duduk sebagai terdakwa di PN Jaksel.

Pada 22 November 2011, PN Jaksel memvonis Anand bebas. Anand tidak terbukti melakukan perbuatan asusila sebagaimana yang didakwakan.

"Menyatakan terdakwa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dalam dakwaan pertama dan kedua. Membebaskan terdakwa dari kedua dakwaan," kata Albertina Ho kala itu.

Tak terima, jaksa kasasi dan dikabulkan. Mahkamah Agung (MA) memvonis Anand 2 tahun 6 bulan. Majelis kasasi MA yang terdiri dari hakim agung ketua Zaharuddin Utama dengan dua hakim agung Achmad Yamanie dan Sofyan Sitompul sepakat Anand telah terbukti melakukan perbuatan cabul. Hal ini sesuai diatur dalam pasal 294 ayat ke 2 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP tentang Perbuatan Cabul.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(slm/rmd)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 14/09/2014 14:52 WIB
    Lulung: Yang Penting Pak Ahok Manis Bicara, Ai Dukung
    Gb Haji Lulung mengaku sudah tidak ada masalah dengan Ahok yang bersuara keras soal kebobrokan DPRD jika pilkada tidak dilakukan langsung. Dia mengingatkan Ahok berhati-hati bicara sehingga tidak ada yang tersinggung.
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
41%
Kontra
59%