detikcom
Kamis, 07/02/2013 00:57 WIB

Tak Ada Izin Pemeliharaan, 3 Gajah Disita dari Taman Waduk Gajah Mungkur

Muchus Budi R. - detikNews
Jakarta - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jawa Tengah menyita tiga ekor gajah dan sembilan hewan langka dilindungi lainnya. Hewan-hewan tersebut disita dari taman satwa Obyek Wisata Sendang Asri Waduk Gajah Mungkur (OWSA-WGM) Wonogiri. Pihak pengelola taman satwa mengakui bahwa selama bertahun-tahun memelihara semua hewan dilindungi tersebut, mereka tidak mengantongi izin.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Wonogiri, Pranoto, mengakui bahwa pada Rabu (6/2/2013) siang tadi, tiga ekor gajah koleksi taman satwa OWSA-WGM disita oleh BKSDA Provinsi Jateng. Selain ketiga gajah tersebut, pihak BKSDA Provinsi Jateng juga menyita sembilan ekor satwa lain yang juga merupakan koleksi taman Gajah Mungkur.

Sembilan hewan lainnya itu terdiri dari seekor rusa Timor, seekor elang hitam, tiga ekor merak, dua ekor landak, seekor kakatua jambul kuning dan seekor buaya muara berukuran besar yang telah lebih dari 25 tahun menghuni taman tersebut. Selain itu disita juga dua potong gading gajah dan anak gajah yang telah diawetkan.

Khusus untuk hewan gajah, semula taman satwa di Waduk Gajah Mungkur itu hanya memiliki sepasang gajah itu dibeli oleh Pemkab Wonogiri dari Way Kambas Lampung pada tahun 1994. Selama di Wonogiri, gajah betina yang diberi nama Handayani telah dua kali melahirkan, satu di antaranya mati dan kemudian diawetkan. Sedangkan satu anak lainnya ikut disita BKSDA bersama gajah jantan dan induknya. Gajah-gajah itu selama ini dijadikan gajah tunggangan yang banyak menarik minat pengunjung.

Pranoto mengakui, pihaknya tidak bisa berbuat banyak ketika hewan-hewan koleksi taman wisata itu diambil BKSDA, karena memang tidak memiliki izin khusus yang dipersyaratkan untuk memelihara dan mengoleksi hewan langka yang dilindungi. Dia memaparkan sesuai Pasal 28 PP No 8/1999, untuk memperagakan satwa dan tanaman yang dilindungi memang diperlukan izin.

"Memang diperlukan sebuah lembaga khusus berupa lembaga konservasi. Kami belum memilikinya. Kami diberitahu bahwa kami masih mungkin untuk mengoleksi hewan-hewan tersebut kembali jika sudah membentuk lembaga konservasi sesuai yang dipersyaratkan," ujar Pranoto, Rabu (6/2/2013).

Lebih lanjut Pranoto memaparkan pihak BKSDA juga tidak secara mendadak mengambil hewan-hewan tersebut. Diakui bahwa BKSDA sudah tiga kali mengirim surat peringatan agar taman satwa tersebut segera dilengkapi dengan surat izin.

"Surat ketiga kami terima tanggal 18 September 2012 lalu. Kami memang tidak bisa memenuhinya dan akhirnya hari ini BKSDA menurunkan tim untuk menyita satwa-satwa tersebut. Menurut petugas, kemungkinan hewan-hewan langka itu untuk sementara akan dititipkan di Taman Satwa di Borobudur dan Taman Satwa Taru Jurug di Solo,” lanjut Pranoto.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(mbr/fjr)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 21/07/2014 12:41 WIB
    Wamenhub: Jembatan Comal Bikin Jalur Darat Lebih Kompleks, Ada 3 Alternatif
    Gb Jembatan Comal, Pemalang, Jateng, yang ambles pada Jumat (18/7) malam lalu membuat mudik via jalur darat lebih kompleks. Memang Kementerian PU mengebut pengerjaan jembatan itu. Namun di satu sisi harus menunggu kelayakannya. Ada 3 alternatif jalur mudik menghindari Jembatan Comal.
ProKontra Index »

Polisi akan Razia dan Bubarkan Sahur on The Road

Dari hari ke hari, Sahur on The Road (SOTR) alias sahur keliling yang awalnya niatnya baik, membagi-bagikan sahur ke warga tidak mampu, kini melenceng semakin meresahkan, melakukan vandalisme hingga pembacokan. Terakhir Senin (21/7) dini hari, beberapa korban pembacokan kelompok SOTR berjatuhan. Polda Metro Jaya akan merazia, membubarkan hingga menindak kelompok SOTR yang melakukan tindak pidana. Bila Anda setuju dengan tindakan Polda Metro Jaya, pilih Pro!
Pro
68%
Kontra
32%