Perintah untuk menangkap PM Pakistan ditolak
Raja Pervez Ashraf dituduh menerima suap ketika masih menjadi Menteri Energi dan Pengairan.
Ketua badan antikorupsi Pakistan menolak perintah Mahkamah Agung untuk menangkap Perdana Menteri Raja Pervez Ashraf dalam dakwaan korupsi.
Fasih Bokhari dari Badan Akuntabilitas Nasional mengatakan penyelidikan dalam kasus
korupsi itu tidak ditopang bukti-bukti cukup sebagai dasar penangkapan.
Mahkamah Agung
Pakistan mempertanyakan penolakan itu namun menegaskan akan mengkaji ulang bukti-bukti.
"Mungkin ada beberapa orang yang mempertimbangkan dirinya lebih tinggi dari luar hukum, namun mari kita tegaskan tidak ada lebih tinggi dari hukum," tutur Ketua Mahkamah Agung, Iftikhar Chaudhry seperti dikutip kantor berita AP.
Sementara seorang hakim agung, Sheikh Azmat Saeed, menuding Bokhari bertindak lebih sebagai penasehat hukum daripada jaksa penuntut pemerintah.
Perdana Menteri Ahsraf dituduh menerima
suap dari
sejumlah perusahaan energi swasta ketika menjabat sebagai Menteri Energi dan Pengairan pada tahun 2010.
Hari Selasa (15/01) Mahkamah Agung memerintahkan penangkapannya dan 15 tersangka lain.
Perundingan dengan Qadri
Tahirul Qadri mengatakan bersedia untuk berunding dengan pemerintah.
Ini bukan pertama kali Mahkamah Agung Pakistan bertentangan dengan pemerintah sehubungan dengan dakwaan korupsi.
Awal tahun lalu Perdana Menteri, Yousuf Raza Gilani, dinyatakan
bersalah menghina
pengadilan karena mengabaikan perintah pengadilan untuk menghubungi pemerintah Swiss sehubungan dengan kasus korupsi atas Presiden Asif Ali Zardari.
Gilani hanya mendapat hukuman beberapa menit di ruang sidang sebagai sebagai perlambang dan tidak akan menjalani hukuman di penjara.
Dalam perkembangan lain, pemerintah melakukan perundingan dengan dengan Tahirul Qadri, yang memimpin
aksi unjuk rasa antikorupsi.
Ulama terkenal itu bersama ribuan pengikutnya menuntut pemerintah saat ini dibubarkan dan pemilihan umum baru digelar jika korupsi sudah berhasil diberantas.
Namun Kamis 17 Januari dia mengatakan siap menghentikan unjuk rasa dan melakukan pembicaraan dengan pemerintah.
Belum ada rincian tentang hasil pembicaraan antara keduanya.
(bbc/bbc)
-
Selasa, 18/06/2013 22:30 WIB
Rencana perundingan langsung AS-Taliban
-
Selasa, 18/06/2013 21:15 WIB
Gugatan penyadapan telepon diajukan di AS
-
Selasa, 18/06/2013 20:26 WIB
Anak cenderung membaca buku di internet
-
Selasa, 18/06/2013 20:14 WIB
Upaya G8 Menghapus Uang Tebusan Sandera
-
Selasa, 18/06/2013 20:10 WIB
Puluhan Demonstran Turki Ditahan di Tengah Aksi Diam
-
Rabu, 19/06/2013 11:27 WIB
Astaga! Ibu Hamil di Lembata Dimakan Buaya
-
Rabu, 19/06/2013 10:33 WIB
Prananda Si 'Soekarno Kecil' Memilih Tak Nyaleg
-
Rabu, 19/06/2013 11:03 WIB
Sipir Salemba Ditusuk Napi Gara-gara Ludah
-
Rabu, 19/06/2013 11:39 WIB
Pesan Mahfudz untuk Tifatul Cs: Santai Aja Bro
-
Rabu, 19/06/2013 10:00 WIB
Keji! Ibu dan Anak Dijadikan Budak Selama 2 Tahun di Amerika
-
Rabu, 19/06/2013 10:57 WIB
Tifatul Tantang Evaluasi Internal, Fahri: APBN-P Sudah Jadi Bos!
-
Rabu, 19/06/2013 11:19 WIB
Jokowi Ditanya Nyapres: Yang Bisikin Saya Banyak
-
Rabu, 19/06/2013 11:02 WIB
Mengerikan! 9 Siswa di Nigeria Ditembak Mati Saat Ujian
-
427 Komentar
-
358 Komentar
-
291 Komentar
-
258 Komentar
-
228 Komentar
-
209 Komentar
-
197 Komentar
-
196 Komentar
-
Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019
-
Rabu, 19/06/2013 10:12 WIB
Ini Tips Kapolres Bandara Cegah Pencurian Barang di Bagasi
-
Rabu, 19/06/2013 09:47 WIB
KPK Panggil Mentan Suswono Sebagai Saksi untuk Maria Elisabeth
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks

.gif)
Mudik selalu dirindukan bagi setiap perantau. Tak terkecuali bagi Dirjen Perhubungan Darat Soeroyo Alimoeso. Beliau curhat tentang dirinya yang tidak pernah mudik dan susahnya mengatur pemudik.
Giatnya Pemerintah memperjuangkan munculnya regulasi (Peraturan Menteri Perindustrian) tentang Low Cost and Green Car (LCGC) bersama-sama DPR-RI membuktikan bahwa Pemerintah sekarang tidak pro angkutan umum.
