Selasa, 15/01/2013 10:38 WIB
DPR: Minim Prestasi, Sarat Korupsi
10 itupun 9 darinya telah dikerjakan pada tahun 2010 dan 2011. Sehingga dapat disimpulkan hanya 1 UU yang terlaksana sebagai target.
Tak hanya itu, menginjak tahun 2013 yang merupakan tahun politik, anggota DPR banyak yang menyibukkan diri untuk terjun ke daerah-daerah "merayu" masyarakat, agar tetap dipilih pada tahun 2014 nanti.
Tak 'ayal' lagi, sibuknya anggota DPR untuk menggalang dukungan masyarakat terutama di daerah, semakin melalaikan anggota DPR atas fungsi mereka mengurusi kepentingan rakyat.
Ternyata gaji Rp 50 juta perbulan plus tunjangan-tunjangan tidak berbanding lurus dengan kinerja anggota DPR. Hal ini dibuktikan dengan awal sidang paripurna pada Senin 7 Januari 2013, kurang dari 50% anggota DPR yang hadir. (metroTV, 8 Januari 2013).
Politik kepentingan VS politik pelayanan
DPR. Dewan Perwakilan Rakyat begitu kepanjangannya. Namun jika diteliti lebih lanjut, ternyata DPR bukanlah representasi rakyat. Kenapa demikian? Hal ini dapat dilihat dari mekanisme pemilihan anggota DPR. Anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum.
Namun sebelum menjadi calon legislatif mereka harus melamar ke partai untuk dicalonkan. Tentu dengan mengeluarkan rupiah yang tidak sedikit. Belum lagi untuk dana kampanye, mulai dari spanduk, banner, sembako murah untuk rakyat atau serangan fajar ketika hari H pemilihan.
Jika mekanisme menjadi anggota DPR adalah seperti yang demikian, maka orang biasa tidaklah mampu untuk mencapainya.
Lantas siapa yang mampu mencapainya? Tentu orang yang bermodal besar alias para kapitalis besar sajalah yang dapat mencalonkan.
Kalaupun orang biasa mencalonkan, pasti dibelakang mereka ada pihak kapitalis besar yang mensupport dana. Jika sudah demikian maka tak heran pada setiap kebijakan, senantiasa mendukung penyandang dana.
Taruhlah undang-unda ng tentang sumberdaya alam, penanaman modal asing, swastanisasi bidang pendidikan dan bidang-bidang lain, semuanya menguntungkan kapitalis besar.
Jika anggota dewan memiliki pola pikir politik adalah untuk melakukan pelayanan pada masyarakat (politik pelayanan) maka dia akan melakukan kinerja terbaik untuk masyarakat.
Sebaliknya, jika politik yang digunakan adalah politik kepentingan (terutama kepentingan pribadi atau partai) maka selamanya, kinerja yang mereka lakukan hanya berkenaan dengan untung rugi saja.
Kepentingan masyarakat? Bisa menjadi nomor sekian kalau tidak mau dibilang tidak dipikirkan.
Sehingga, pertanyaan besarnya adalah benarkah DPR merupakan wakil rakyat jika yang diperjuangkan adalah kepentingan pribadi atau kepentingan pemilik modal saja?
Kapitalisme biang kerok permasalahan bangsa
Kapitalisme adalah sebuah ideology yang menstandarkan segala sesuatu pada materi semata (uang, harta, jabatan, dan lain-lain). cara pandang seperti ini akan berakibat pada kesengsaraan manusia.
Jika dia menjadi pemimpin, dia akan menghitung untung rugi, berapa besar yang dia keluarkan maka harus lebih besar lagi yang dia dapatkan, termasuk dengan menghalalkan segala cara. Menuju kursi DPR membutuhkan dana besar.
Jika sudah terpilih, hal yang dipikirkan adalah meraup kuntungan sebesar-besarnya. Salah satunya bisa jadi dengan korupsi. Selama mekanisme pemilihan DPR sebagaimana yang dilakukan saat ini (demokrasi) maka selama itu pula korupsi tidak akan pernah mati.
Karena demokrasi dan kapitalisme adalah soulmate. DPR mau mendapatkan kursi, pihak pemodal mendanai. Sudah menjadi Anggota DPR kebijakanpun untuk melayani pihak kapital (pemodal).
Terjadilah simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha. Suap merajaela. Korupsi menggurita. Saatnya kita tinggalkan keduanya.
Karena sudah pasti membuat sengsara. Ganti dengan system aturan Allah yang Maha Sempurna. Khilafah Ar Rosyidah Solusinya.
Permadina Kanah Arieska
Jl Cipta Menanggal, Surabaya
kanasangoutlier@gmail.com
085648950321
Empat pekerja tewas saat membersihkan bak air di Ancol. Saksikan Informasi Selengkapnya di "Reportase Pagi", pukul 04.26 - 05.25 WIB, hanya di TRANS TV
(wwn/wwn)
Baca Juga
Twitter Recommendation
-
Gantikan Bajaj Butut, Pemprov DKI Siapkan Bajaj Listrik Swedia
283 share this. -
Jeritan Supir Angkot di Terminal Pulogebang, Dikala Harga BBM Naik
214 share this. -
Kabut Asap Bawa Berkah Bagi Sopir Taksi Singapura
200 share this. -
Pintu Masuk Imigran Gelap Ada di Sepanjang Garis Pantai Indonesia
97 share this. -
Ketua FPD MPR: SBY Belum Tentu Setujui 3 Menteri PKS Disuruh Mundur
75 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Opini Terbaru
Indeks Opini ยป
-
Senin, 17/06/2013 09:25 WIB
Kiat Bercerai Dengan Rokok
-
Kamis, 13/06/2013 13:14 WIB
Solusi Pembatasan BBM Bersubsidi
-
Kamis, 13/06/2013 08:08 WIB
Urgensi Pengadaan Pojok ASI di Tempat Umum
-
Selasa, 11/06/2013 08:27 WIB
Sekilas Mengenai Pengembangan Bandar Udara Soekarno Hatta
-
Jumat, 07/06/2013 06:22 WIB
BBM Boleh Naik, Tapi Sebaiknya tidak Sama Rata
-
Kamis, 20/06/2013 04:03 WIB
Dituduh Maling oleh Mantan Kekasih, WN Australia Dituntut 7 Tahun Bui
-
Kamis, 20/06/2013 03:20 WIB
Polisi Tetapkan 44 Tersangka dan 19 DPO dalam Kasus Perusakan KFC Medan
-
Kamis, 20/06/2013 04:18 WIB
Kantor PBB di Somalia Diserang Bom Bunuh Diri, 16 Orang Tewas
-
Kamis, 20/06/2013 03:48 WIB
Deddy Mizwar Ingin Gulirkan Kredit Untuk Seniman
-
Kamis, 20/06/2013 00:40 WIB
Kabut Asap Bawa Berkah Bagi Sopir Taksi Singapura
-
Kamis, 20/06/2013 01:37 WIB
Enggan Naikkan Tarif Pasca BBM Naik, Pengusaha Angkot Minta Subsidi
-
Kamis, 20/06/2013 00:16 WIB
Gantikan Bajaj Butut, Pemprov DKI Siapkan Bajaj Listrik Swedia
-
Kamis, 20/06/2013 01:16 WIB
Ketua FPD MPR: SBY Belum Tentu Setujui 3 Menteri PKS Disuruh Mundur
-
423 Komentar
-
356 Komentar
-
230 Komentar
-
205 Komentar
-
201 Komentar
-
195 Komentar
-
183 Komentar
-
178 Komentar
-
Rabu, 19/06/2013 14:22 WIB
Penerus Mega di PDIP
Effendi Simbolon Buka-bukaan Soal Prospek Politik Prananda dan Puan
Prananda dan Puan Maharani disebut-sebut disiapkan menjadi penerus tahta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Anak kedua Mega, Prananda (43), diyakini sebagia pembawa ideologi kakeknya, Bung Karno.
ProKontra
Index »
Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Rabu, 19/06/2013 21:17 WIB
Canda SBY untuk Para Capres 2014
-
Rabu, 19/06/2013 20:45 WIB
Pak Jokowi, Penjaga Pintu Air Belum Terima Gaji 3 Bulan
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer



_10.gif)





_5.gif)





_3.gif)

Mudik selalu dirindukan bagi setiap perantau. Tak terkecuali bagi Dirjen Perhubungan Darat Soeroyo Alimoeso. Beliau curhat tentang dirinya yang tidak pernah mudik dan susahnya mengatur pemudik.
Giatnya Pemerintah memperjuangkan munculnya regulasi (Peraturan Menteri Perindustrian) tentang Low Cost and Green Car (LCGC) bersama-sama DPR-RI membuktikan bahwa Pemerintah sekarang tidak pro angkutan umum.

