Detik.com News
Detik.com

Senin, 14/01/2013 16:37 WIB

Pemerkosaan di Suriah Picu Eksodus Kaum Wanita dan Anak-anak

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Pemerkosaan di Suriah Picu Eksodus Kaum Wanita dan Anak-anak Ilustrasi
Damaskus - Pemerkosaan disebut-sebut sebagai persoalan paling utama dalam konflik Suriah yang tak kunjung berakhir. Tindak kekerasan dan pemerkosaan itu jugalah yang memicu eksodus besar-besaran kaum wanita dan anak-anak keluar dari Suriah.

Banyak warga Suriah, terutama wanita dan anak-anak yang memilih melarikan diri ke negara tetangga, seperti Yordania dan Libanon, demi menghindari konflik di negaranya. Hasil laporan organisasi kemanusiaan, International Rescue Committee (IRC) yang diberi judul "Syria: A Regional Crisis" menyebut pemerkosaan sebagai "faktor yang paling mengganggu dan paling signifikan dalam perang saudara di Suriah".

"Dalam penelitian IRC ke Libanon dan Yordania, kebanyakan warga Suriah mengakui pemerkosaan sebagai alasan utama keluarga mereka kabur ke luar negeri," demikian bunyi laporan IRC yang berbasis di Amerika Serikat ini, seperti dilansir AFP, Senin (14/1/2013).

"Banyak wanita dan anak perempuan Suriah yang menyatakan dirinya menjadi korban penyerangan di depan publik maupun di rumah mereka sendiri, terutama oleh pria-pria bersenjata. Pemerkosaan yang terjadi, yang terkadang dilakukan secara berkelompok, seringkali terjadi di depan anggota keluarga mereka," lanjut laporan tersebut.

Laporan IRC tersebut juga menyebutkannya maraknya kekerasan terhadap perempuan Suriah, seperti penculikan, pemerkosaan, penyiksaan hingga pembunuhan. Menurut IRC, banyak korban kekerasan seksual yang enggan melaporkan ke pihak berwenang karena ketakutan.

Selain itu, terkadang korban malah dihabisi nyawanya oleh keluarganya sendiri karena dianggap memalukan keluarga. Dalam kasus lainnya, tidak jarang korban malah dinikahkan secara paksa, meski dalam usia yang sangat muda, demi menjaga kehormatan keluarga.

"Stigma dan normal sosial yang ditimbulkan oleh pemerkosaan menjadi aib bagi wanita dan anak perempuan serta keluarga mereka," jelas IRC.

IRC juga melaporkan, banyaknya pengungsi Suriah di Yordania dan Libanon yang kekurangan fasilitas medis dan layanan konseling. "Kondisi kamp pengungsian yang tidak aman juga memicu terjadinya kekerasan domestik," imbuh IRC.

Hingga saat ini, badan urusan pengungsi PBB alias UNHCR mencatat, sedikitnya ada 600 ribu pengungsi Suriah yang terdaftar di sejumlah kamp pengungsian di negara-negara tetangga. PBB memperkirakan, jumlah pengungsi akan membengkak menjadi 1,1 juta hingga bulan Juni mendatang jika konflik Suriah masih terus berlangsung.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(nvc/ita)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Advetorial Index »
  • Jumat, 22/05/2015 20:11 WIB
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli Ada yang menilai kurang moncernya kinerja tim ekonomi saat ini tak lepas dari kurang optimalnya peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago. Kepala Bappenas itu juga dituding banyak memangkas program-program unggulan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita.
ProKontra Index »

Ayah Pemerkosa Putri Kandung dan Bunuh 4 Anaknya Layak Dihukum Mati!

Sadriansyah, warga Sungai Kunjang, Samarinda, Kaltim tega memperkosa putri kandungnya dan membunuh 4 anak-anak sendiri saat masih kecil. Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq berpendapat, Sadriansyah pantas dihukum mati karena menjadi ayah yang biadab. Bila Anda setuju bahwa hukuman yang setimpal bagi Sadriansyah adalah hukuman mati, pilih Pro!
Pro
90%
Kontra
10%