detikcom
Rabu, 09/01/2013 21:19 WIB

Politisi Golkar "Mendadak Lupa" Saat Jalani Sidang Suap PON

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Pekanbaru, - Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Kahar Muzakir menjadi saksi dalam persidangan suap PON di Pengadilan Tipikor Pekanbaru. Kahar kerap menjawab lupa ketika menjawab sejumlah pertanyaan majelis hakim.

Hakim ketua, Is Nurul menanyakan aliran duit suap Rp miliar yang ditujukan untuk Fraksi Golkar. Termasuk soal pemberian uang yang disebut Lukman dititipkan pada ajudan Kahar.

Kahar membantah dirinya ikut menerima uang suap. "Saya tidak pernah menerima uang itu," kata Kahar yang menjadi saksi untuk terdakwa Lukman Abbas mantan Kadispora Riau di Pengadilan Tipikor, Rabu (9/1/2013).

Di persidangan, Kahar mengaku hanya bertemu dua kali dengan Lukman Abbas yakni saat berkenalan dan ketika menerima surat. Tapi keterangan ini berbeda dengan pengakuan Lukman yang mengaku lima kali melakukan pertemuan.

Lukman juga mengaku pernah bertemu seluruh anggota fraksi Golkar di ruangan Setya Novanto, Ketua Fraksi Golkar di DPR,

Ketika ditanya, apa yang dibahas sehingga anggota fraksi Golkar bertemu di ruangan Setya Novanto? "Itu hanya membahas masalah Golkar," kilah Kahar.

"Kalau masalah Golkar, mengapa di Senayan?" tanya hakim. "Karena dalam pertemuan itu ada Gubernur Riau bagian dari Ketua DPP Golkar dan Setya Novanto Bendara Golkar," jawab Kahar.

Dalam pertemuan, Kahar mengaku tidak berkomunikasi dengan Lukman. "Tidak waktu itu saya hanya disuruh kenalan gubenur saja dengan Lukman. Saya hanya salaman saja," ujarnya.

Dia mengaku lupa ketika ditanya hakim mengenai saling tukar nomor HP. "Saya lupa,"

Kahar yang menggunakan BlackBerry juga lupa mengenai pertukaran pin BlackBerry Messenger. "Saya lupa. Lagipula saya gaptek," jawab Kahar.

Pengacara Lukman dalam sidang menanyakan isi BBM antara Kahar dengan Lukman Abbas. Isi BBM itu "Saya tidak bertanggung jawab kalau sampai jam lima sore tidak ada". Ketika ditanya apa maksud isi BBM itu, kembali lagi jurus lupa menjadi senjata Kahar. "Yang mana? Saya lupa," kata Kahar.

Sayang jaksa dan hakim di persidangan tidak memperdalam isi BBM Kahar kepada Lukman soal permintaan dana. Padahal dalam sidang sebelumnya Lukman menyebutkan pernah bertemu Kahar meminta tolong penempatan alokasi dana APBN untuk PON di Riau.

Pemprov Riau minta dana bantaun untuk PON Riau Rp200-san miliar. Sebagai dana bantuan, Lukman menyebutkan memberikan uang untuk fraksi Golkar Rp 9 miliar dalam mata US$.


Penimbunan BBM gunakan macam cara untuk menimbun bbm.Saksikan penelusurannya di "Reportase Investigasi" pukul 16.45 WIB, hanya di Trans TV.

(cha/fdn)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    58%
    Kontra
    42%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    • Rp .000
    • Rp .000