Detik.com News
Detik.com
Selasa, 08/01/2013 14:36 WIB

Ini Ketentuan Garuda Indonesia Soal Penumpang Hamil

Rachmadin Ismail - detikNews
 Ini Ketentuan Garuda Indonesia Soal Penumpang Hamil
Jakarta - Garuda Indonesia rupanya pernah juga membantu penumpang melahirkan di atas pesawat. Maskapai pelat merah itu juga punya regulasi khusus soal penumpang hamil. Seperti apa?

VP Corporate Communication Garuda Indonesia, Pujobroto, menjelaskan, penumpang yang mengalami kehamilan pertama, diizinkan untuk terbang sampai usia kehamilannya mencapai 32 minggu. Namun kalau kehamilan kedua atau ketiga, pada usia kehamilan 32 minggu, penumpang itu tak diizinkan terbang.

"Pertimbangan kehamilan pertama masih diizinkan untuk terbang sampai usia kehamilan mencapai 32 minggu, karena pada kehamilan pertama, proses "pembukaan" akan lebih lama dibandingkan penumpang yang mengalami kehamilan kedua atau, ketiga," jelas Pujo kepada detikcom, Selasa (8/1/2013).

Ditambahkan Pujo, awak pramugari Garuda Indonesia juga dibekali pelatihan dasar untuk membantu persalinan. Selain tentu saja pelatihan pelayanan, keamanan dan kenyamanan.

"Termasuk mendapat training mengenai "basic medical knowledge" yang didalamnya membantu menangani persalinan," sambungnya.

Pelatihan ini pernah digunakan untuk membantu penumpang hamil yang melahirkan saat terbang dari Jeddah ke Jakarta sekitar lima tahun lalu.

"Awak kabin Garuda - sekitar lima tahun yang lalu - juga pernah membantu menangani persalinan, yaitu dalam penerbangan dari Jeddah ke Jakarta," ceritanya.

Kisah kelahiran di atas pesawat terbang baru-baru ini terjadi di pesawat milik Merpati Nusantara Airlines. Seorang penumpang melahirkan pada Minggu (7/1) lalu dengan bantuan pramugari dan mahasiswa keperawatan. Namun, nyawa bayi yang lahir prematur itu tak tertolong meski sudah mendapat perawatan di rumah sakit.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(mad/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%