detikcom
Senin, 29/10/2012 14:20 WIB

Lampung Selatan Kembali Memanas, Ribuan Orang Kepung Desa Balinuraga

Gagah Wijoseno - detikNews
Jakarta - Suasana Lampung Selatan, kembali memanas. Ribuan orang dari sejumlah desa di sekitar Kalianda bergerak menuju Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji. Petugas kepolisian pun bergerak memecah konsentrasi massa.

"Massa menembus blokade aparat," terang Andika, seorang warga setempat, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (29/10/2012).

Konsentrasi massa dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Ribuan warga terus berdatangan menuju Desa Balinuraga. Pertikaian dipicu kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan salah seorang warga. Hingga pukul 14.00 WIB, konsentrasi massa terus bertambah.

Mereka datang dengan sepeda motor dan truk. Warga membawa senjata tajam dan kayu.

"Petugas kepolisian sudah berusaha memecah konsentrasi massa. Jarak warga dengan Desa Balinuraga sekitar 3 km. Semoga tidak terjadi apa-apa," tuturnya.

Suasana memanas hari ini merupakan kelanjutan dari insiden pada Minggu (28/10). 3 Orang tewas akibat insiden ini.

"Pada hari Minggu 28 Oktober 2012 pukul 10.00 WIB telah terjadi perang kampung. TKP di Balinuraga. Korban jiwa 3 orang," kata Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyaningsih, dalam pesan singkat kepada detikcom, Minggu (28/10/2012).

Berikut identitas ketiga korban bentrok di Lampung:

1. Marhadan Bin Samsinur, 35 tahun, warga Lampung, alamat Dusun Jembatan Besi, Desa Gunung Terang Kalianda, Lampung Selatan.
2. Jahiya bin Abdullah Lalung, 30 tahun, warga Lampung, alamat Jati Permai, Kalianda, Lampung Selatan.
3. Alwi Nazar bin Solihin, 35 tahun, warga Lampung, Dusun Sukaraja, Desa Tajimalela, Kalianda, Lampung Selatan.



Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ndr/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
63%
Kontra
37%