detikcom
Rabu, 10/10/2012 14:59 WIB

Polisi Duga Otak Bom Poso Terkait dengan Jaringan Solo

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Polisi menduga otak di balik serangan dari dua ledakan yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah adalah Imron (27). Imron merupakan seorang terduga teroris yang kemarin ditangkap dan diduga memiliki hubungan dengan jaringan teroris di Solo.

"Imron adalah tokoh penting yang menghubungkan Santoso (DPO teroris) dengan pelaku yang ada di Solo," ujar Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (10/10/2012).

Boy juga menjelaskan dalam dua peristiwa ledakan yang terjadi pada Selasa (9/10) malam itu tidak memakan korban. Kerusakan oleh bom tersebut adalah hancurnya kaca jendela rumah dan satu unit mobil Avanza berwarna silver milik seorang pegawai Dinas PU Poso, bernama Okri Mamuaya. Sementara satu benda lain yang diduga bom diketahui meledak tidak jauh dari rumah ibadah.

"Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Untuk yang satunya bukan di rumah ibadah tapi di dekat komplek pertigaan dekat Gereja Immanuel, terdengar satu kali letupan, kita belum mendapatkan hasil fakta suara itu," terang Boy.

Sementara pelaku yang saat itu kabur menggunakan mobil Toyota Kijang Rover warna biru usai melakukan aksinya masih dilakukan pengejaran. Para pelaku diduga melarikan diri ke arah Pendolo.

Sebelumnya, Densus 88/Antiteror kembali menangkap terduga teroris. Penangkapan tersebut dilakukan Densus 88 di Jl Kangkung, Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, sekitar pukul 15.30 WITA. Di lokasi ini Densus menangkap seorang pria berusia 27 tahun atas nama Imron.

"Yang bersangkutan merupakan alumni Shahada Boyolali," kata Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, Selasa (9/10).

Imron menjadi target tim Densus karena diduga sebagai fasilitator peserta latihan ala militer kepada kelompok teroris di sekitar Sulawesi Tengah. Pria yang bekerja sebagai petani ini juga diduga menjadi kurir kelompok teror Santoso yang kini menjadi buron kepolisian.

"Yang bersangkutan juga membeli senjata api, belajar merakit bom di kelompok Badri dan Toriq, dan berulang kali melakukan fa'i (pengumpulan dana demi jihad, red) di wilayah Sulteng atas perintah Santoso," papar Suhardi.


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(riz/nwk)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
60%
Kontra
40%