Detik.com News
Detik.com

Jumat, 05/10/2012 10:27 WIB

Amelia Ahmad Yani: Anak PKI Atau Anak Jenderal Itu Rasanya Sama

Deden Gunawan - detikNews
Amelia Ahmad Yani: Anak PKI Atau Anak Jenderal Itu Rasanya Sama
Jakarta - Putri Jenderal Ahmad Yani, Amelia Ahmad Yani, 63 tahun, masih lancar menceritakan peristiwa kelam subuh 1 Oktober 1965 di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Kejadian yang hanya beberapa menit itu, berbekas hingga kini. Berikut wawancara Isfari Hikmat dari majalah detik dengan Amelia Ahmad Yani:

Seperti apa peristiwa kelam 1965 tersebut?

Kejadian pagi 1 Oktober pukul 04.30 WIB, saya mendengar tembakan seperti halilintar yang membahana, lars tentara yang berlari, suara mesin mobil banyak sekali mengepung rumah. Pasukan Tjakrabirawa yang merupakan pengawal presiden datang untuk menjemput. Saya mengintip dari kamar tidur di belakang, dari arah ruang makan, ada piama biru diseret-seret. Itubapak saya, dia pakai piama biru. Saya keluar, penuh sekali tentara Tjakrabirawa dan Pemuda Rakyat tidak pakai sepatu. Terakhir saya lihat bapak sudah memejamkan mata. Ada tujuh peluru yang menembus dada Letjen Ahmad Yani kala itu.

Bapak dibilang mau dipanggil presiden, masa setengah lima? Sehingga mau ganti baju dulu, karena masa pakai piama? Ada prajurit yang bentak-bentak bapak, lalu ditonjok sampai terjatuh. Semua sudah menodong senapan. Setelah itu masuk kamar mau ganti baju. Dia ditembak saat masuk kamar yang pintunya kaca dari jarak satu meter. Di kamar itu memang ada pistol di laci dekat pintu, mungkin dianggap mau melawan. Saya ada di belakang, akhirnya semua keluar dengar suara tembakan itu. Kejadian itu hanya beberapa menit.

Selanjutnya apa yang terjadi?

Saya hanya tahu bapak dibawa ke arah Pasar Rumput (Manggarai). Tidak ada yang tahu ke mana. Pagi itu semua jalan di Jakarta ditutup oleh tentara. Waktu itu tidak ada yang tahu Sukarno ada di mana. Pak Soeharto pagi itu ke Kostrad, semua panglima ditelepon. Menteri Panglima Angkatan Udara Omar Dhani mengatakan dia ada di belakang Gerakan 30 September, bersama Bung Karno, yang lain ikut.

Itulah pernyataan yang membuat dia dihukum. Dia mendukung gerakan yang mengambil para jenderal ini, yang lain ikut. Pak Nasution ada di Kostrad tapi tidak bisa mengambil tindakan apa-apa karena tidak mempunyai pasukan. Dia hanya administrasi, sedangkan Kostrad sangat strategis yang mengatur Pak Harto.

***

Wawancara selengkapnya bisa dibaca GRATIS di edisi terbaru Majalah Detik (edisi 44, 1 Oktober 2012). Edisi ini mengupas tuntas peristiwa G30S dengan tema Kontroversi Pembantai PKI. Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik kriminal membahas Kisah Keyko Si Ratu Germo Internasional Larangan Merokok di Swiss, rubrik gaya hidup Mari Ber-Gangnam Style berita komik Nasib Nahas Ondos rubrik seni dan hiburan dan review film Premium Rush, WKWKWK Polwan Masuk Parit, serta masih banyak artikel menarik lainnya.

Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi pdf bisa di download www.majalahdetik.com. Gratis, selamat menikmati!

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(iy/iy)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan Khusus Terbaru Indeks Laporan Khusus ยป
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%