Detik.com News
Detik.com

Senin, 01/10/2012 16:19 WIB

Gerindra: Penundaan Deklarasi Capres Prabowo Bukan Karena Grogi

Ahmad Toriq - detikNews
Jakarta - Deklarasi Prabowo Subianto sebagai capres Gerindra ditunda. Gerindra disebut mulai ragu karena langkah Prabowo terganjal aturan presidential threshold (PT) 20 persen. Namun hal itu dibantah.

"Tidak benar bahwa ada pesimisme dari Gerindra dalam pencalonan Pak Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2014 yang akan datang," kata anggota Dewan Pembina Gerindra, Martin Hutabarat, saat dihubungi detikcom, Senin (1/10/2012).

Menurut Martin, aturan PT sebesar 20 persen yang berlaku saat ini memang menjadi batu sandungan bagi Prabowo. Namun aturan itu masih bisa diubah. Dia yakin DPR akan mau mengubah aturan itu untuk memunculkan banyak capres alternatif sesuai keinginan masyarakat.

"PT yang 20 persen kan masih pembicaraan di Baleg DPR. Kita masih berusaha meyakinkan teman-teman Fraksi lain di DPR agar tidak bersikukuh mempertahankan persyaratan Capres yang 20 persen, karena akan mempersulit munculnya capres-capres alternatif di masyarakat," ujarnya.

Martin menilai saat ini masyarakat sudah sangat membutuhkan capres alternatif di luar nama-nama yang saat ini beredar dan didukung partai besar.

"Gerindra sangat sadar bahwa rakyat sangat menginginkan munculnya calon presiden alternatif yang lebih banyak pada Pemilu 2014 yang akan datang," imbuhnya.

Deklarasi pencapresan Prabowo sedianya akan dilakukan Oktober bulan ini. Namun deklarasi itu ditunda. Tingginya presidential threshold (PT) sebesar 20 persen disebut menjadi ganjalan utama yang membuat pencapresan itu ditunda.

Wasekjen PD Ramadhan Pohan menyebut mundurnya deklarasi Prabowo penuh muatan politik. Prabowo dianggap mulai grogi.

"Prabowo mulai grogi, ditundanya deklarasi pencapresan Prabowo karena dia mulai ragu-ragu. Jadi presiden itu tidak mudah Jenderal," kata Ramadhan hari ini.

Partai-partai besar disinyalir berusaha mengganjal pencapresan Prabowo dengan menolak revisi UU Pilpres dan menurunkan PT. Saat ini Gerindra sedang berjuang untuk memuluskan jalan Prabowo dengan mengajukan uji materi UU Pilpres ke MK.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(trq/mok)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 22/05/2015 20:11 WIB
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli Ada yang menilai kurang moncernya kinerja tim ekonomi saat ini tak lepas dari kurang optimalnya peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago. Kepala Bappenas itu juga dituding banyak memangkas program-program unggulan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita.
ProKontra Index »

Ayah Pemerkosa Putri Kandung dan Bunuh 4 Anaknya Layak Dihukum Mati!

Sadriansyah, warga Sungai Kunjang, Samarinda, Kaltim tega memperkosa putri kandungnya dan membunuh 4 anak-anak sendiri saat masih kecil. Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq berpendapat, Sadriansyah pantas dihukum mati karena menjadi ayah yang biadab. Bila Anda setuju bahwa hukuman yang setimpal bagi Sadriansyah adalah hukuman mati, pilih Pro!
Pro
90%
Kontra
10%