detikcom
Senin, 24/09/2012 23:58 WIB

Terkait Tawuran, Polisi akan Mediasi SMA 6 dan SMA 70 Jakarta

Pandu Triyuda - detikNews
Jakarta - Pasca tewasnya siswa SMA 6 Jakarta yang diduga dibacok oleh siswa SMA 70 Jakarta di depan KFC Bulungan, pihak kepolisian akan membantu mediasi dua sekolah tersebut. Selain itu, polisi mengamankan lokasi untuk mencegah terjadinya aksi serupa.

"Kita melakukan langkah-langkah preventif dengan menurunkan petugas keamanan (pihak kepolisian) melakukan jaga di sekitar TKP maupun di lingkungan sekolah untuk sementara waktu," ujar Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wahyu Hadiningrat, kepada wartawan di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II, Senin (24/9/2012).

Menurut Wahyu, pihak kepolisian selain melakukan kerja sama keamanan dengan pihak sekolah, polisi juga akan melakukan mediasi dengan kedua sekolah.

"Besok rencananya kita akan pertemukan kedua belah pihak. Terdiri dari guru sekolah SMA 70 dan guru sekolah SMA 6," ungkapnya.

Wahyu pun menghimbau agar kedua sekolah, bisa menghentikan aksi kekerasan yang berujung maut ini. "Kita sudah menghimbau baik SMA 6 dan SMA 70 untuk bisa mengendalikan dari pada siswanya," pungkasnya.

Seperti diketahui tawuran antara siswa SMA 6 dan SMA 70 Jakarta kembali pecah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Tawuran ini menyebabkan seorang siswa SMA 6 kelas X tewas akibat kena bacok di bagian dada.

Korban tewas bernama Alawy. Dia merupakan siswa kelas X berusia 15 tahun. Menurut saksi mata ketika tawuran pecah, Alawy sedang makan gulai di tikungan Bulungan (gultik). Dia lantas lari menyelamatkan diri bersama teman-temannya.

Malang, dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia.

Jarak SMA 6 dan SMA 70 berjarak 300 meter saja, tak jauh dari Blok M Plaza. Siswa kedua SMA unggulan itu selama ini sering tawuran.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(ndu/trq)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
66%
Kontra
34%