Minggu, 23/09/2012 20:52 WIB
Awas! Titik-titik Kecurangan Verifikasi Faktual Parpol
"Terdapat beberapa titik rawan penyelenggaran dan kecurangan pada tahapan verifikasi faktual ini," ujar Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR), Yusfitriadi, dalam jumpa pers di Gedung Agenda, Jl Cikini V nomor 15 A, Jakarta, Minggu (23/6/2012).
Setidaknya ada 3 titik kecurangan yang mungkin terjadi. Pertama, terjadinya kompromi politik. Hal ini bisa terjadi antara parpol dan penyelenggara pemilu, parpol dengan pengawas pemilu, maupun parpol dengan parpol.
"Di mana parpol yang sudah mendapatkan kursi di parlemen yang secara psikologis belum siap itu melakukan kompromi politik dengan yang baru yang juga sama-sama ingin lolos. Sehingga pada akhirnya kompromi itu outputnya untuk meloloskan semua parpol," tutur Yusfitriadi.
Dia menjelaskan kompromi politik terkait integritas independensi dan profesionalitas penyelenggara terutama yang memverifikasi di tingkat kabupaten/kota. Dia melihat parpol terlambat menyiapkannya.
"Mereka baru sewa kantor, berarti kan baru disiapkan, berkas yang diserahkan ke KPU juga fotokopian. Sehingga ini ada kekhawatiran. Entah ini opini kita atau opini masyarakat ya, samalah semua partai. Baru ramai ketika mau kampanye. Ini korelasinya dengan ketidaksiapan. Sehingga itu kemudian yang mendorong parpol untuk kompromi politik," papar Yusfitriadi.
Kedua, parpol calon peserta pemilu hanya memaksimalkan dokumen faktualnya di daerah, termasuk 10 persen sampling objek verifikasi faktual. Karena itu, 90 persen sisanya tidak disiapkan.
"Terutama keanggotaan, ada kekhawatiran parpol menyiapkan dokumen faktualnya di daerah 10 persen yang menjadi objek sampling saja. Yang 90 persen tidak. Sementara infrastruktur di bawah tidak siap. Menjelang pemilu tidak siap,"j elas Yusfitriadi.
Ketiga, pembajakan kader politik. Menurut JPRR ada beberapa parpol yang menjadikan hal itu. Ketika kekecewaan muncul pada sebuah parpol kemudian diimplementasi dengan partai baru, maka tingkat bawah rawan pembajakan.
"Di mana kemudian pengurus partai A misalnya, di partai yang dulu ada yang partai sempalan juga ada. Belum lagi masalah keanggotaan. Memungkinkan mereka memiliki 2 partai," sambung dia.
Ketika kondisi itu terjadi, imbuh Yusfitriadi, penyelenggara pemilu tidak memverifikasi secara akurat. Saat itu terjadi, cita- cita untuk memiliki parpol yang demokratis dengan politiskus- politikus yang ikut pembangun bangsa yang anti korupsi tidak akan pernah terwujud.
"Oleh karena itu politisi-politisi yang disumbangkan ke senayan tidak akan pernah memiliki kontribusi-kontribusi terhadap negara," ujar dia.
Sementara itu Wasekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi, di kesempatan yang sama mengatakan Bawaslu belum sempat membentuk panwas di kabupaten/kota. Karena itu KIPP akan mem-back up lembaga tersebut. Untuk itu ada dua metode yang dilakukan.
"Pertama, menempel petugas KPU. Dari situ kita bisa memastikan apakah kerja-kerja petugas yang memverifikasi ini berjalan dengan baik atau tidak," kata Jojo.
Yang kedua, menunggu hasil verifikasi KPUD, setelah itu mencocokkan dengan apa yang KIPP temukan di lapangan. "Metode-metode ini diharapkan akan mendapatkan hasil proses verifikasi yng berkualitas dan baik," sambung Jojo.
Nah, untuk menjaga titik rawan tersebut KIPP dan JPPR akan memantau 260 kabupaten/kota dan seluruh provinsi selama verifikasi faktual berlangsung.
GUna memverifikasi faktual parpol, KPU menerjunkan 13.450 petugas di seluruh Indonesia. Penetapan partai politik pun diubah dari tanggal 15 Desember 2012 menjadi 8 Januari 2013. Sebab verifikasi faktual kepada partai politik dilakukan selama lima bulan.
(vit/mpr)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Polri Tugasnya untuk Kemanusiaan, Bukan Berbisnis!
651 share this. -
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
498 share this. -
Korea Utara Kembali Uji Rudal Jarak Pendek Keempatnya
350 share this. -
Korban Runtuhan Tambang Freeport di Papua Bertambah Jadi 8
292 share this. -
Pencopet Tewas Tertabrak Busway usai Beraksi di Bogota
272 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Senin, 20/05/2013 15:23 WIB
BK DPR Segera Rapat Bahas Pemecatan Sukur Nababan
-
Senin, 20/05/2013 15:16 WIB
Mengenal Lebih Dekat Letjen Moeldoko, KSAD yang Baru
-
Senin, 20/05/2013 15:14 WIB
Hari ke-217 Jokowi
Ini 3 Masalah Pelik KJS Versi Jokowi
-
Senin, 20/05/2013 15:13 WIB
GM SLS Chevron: Proyek Bioremediasi Tak Rugikan Negara
-
Senin, 20/05/2013 15:10 WIB
Usut Aiptu Labora, Polisi Ditantang Kejar Rekening Gendut Jenderal
-
Senin, 20/05/2013 14:05 WIB
4 Sentilan Pedas Sefti terhadap Selingkuhan Fathanah
-
Senin, 20/05/2013 14:24 WIB
SBY Pilih Letjen Moeldoko Sebagai KSAD Pengganti Pramono Edhie
-
Senin, 20/05/2013 14:51 WIB
Kompolnas: Aiptu Labora Mengadu Ada Aliran Dana ke Petinggi Polri
-
Senin, 20/05/2013 13:25 WIB
Ini Kisah 6 Mobil Luthfi Hasan yang Belum Terungkap
-
Senin, 20/05/2013 14:51 WIB
Buruh Garmen di Tangerang Diduga Diperkosa Satpam
-
Senin, 20/05/2013 14:15 WIB
Noriyu: 16 RS Mundur, Jokowi Harus Legowo Katakan KJS Belum Siap
-
Senin, 20/05/2013 15:11 WIB
Mengenal Lebih Dekat Letjen Moeldoko, KSAD yang Baru
-
Senin, 20/05/2013 13:11 WIB
BBM yang Ditimbun Aiptu Labora Lebih Besar dari Kuota Pertamina
-
351 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
212 Komentar
-
211 Komentar
-
209 Komentar
-
201 Komentar
-
173 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,841.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 13:11 WIB
BBM yang Ditimbun Aiptu Labora Lebih Besar dari Kuota Pertamina
-
Senin, 20/05/2013 13:11 WIB
Assad: AS Tidak Benar-benar Menginginkan Solusi Atas Krisis Suriah
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


.gif)





_5.gif)






Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

