Detik.com News
Detik.com
Sabtu, 22/09/2012 14:52 WIB

Anand Krishna Divonis Cabuli Murid, Keluarga: Putusan itu Sesat

Andi Saputra - detikNews
Anand Krishna Divonis Cabuli Murid, Keluarga: Putusan itu Sesat Anand Krishna (ari saputra/detikcom)
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) memutuskan tokoh spiritual Anand Krishna terbukti mencabuli muridnya sehingga harus dihukum 2,5 tahun penjara. Menanggapi putusan kasasi ini, putra Anand Krishna, Prashant Gangtani mengatakan pihaknya tidak akan tunduk kepada putusan MA yang dinilai sesat.

"Kami berpendapat bahwa berdasarkan UUD, KUHP pasal 244, putusan bebas tidak bisa dikasasi. Dalam KUHP tidak ada pasal yang menyatakan bebas dibagi dua kategori yaitu putusan bebas murni dan bebas tidak murni. Itu hanya cara-cara oknum-oknum MA yang bandel. Menunduk kepada putusan sesat sama aja kita melanggar hukum," kata Prashant dalam siaran pers yang diterima detikcom, Sabtu (22/9/2012).

Prashant juga menanyakan janji Jaksa Agung dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi III DPR tahun lalu. Dalam kesempatan tersebut, Jaksa Agung menyatakan putusan bebas yang tidak merugikan uang negara tidak akan dikasasi. Dia juga menanyakan bagaimana JPU bisa memegang yurisprudensi sebagai dasar pengajuan kasasi.

"Di semester pertama Fakultas Hukum, jelas diajarkan yurisprudensi digunakan apabila tidak ada hukumnya. Kalau ini jelas ada Pasal 244 KUHAP, sehingga kalau memakai yurisprudensi itu artinya melanggar hukum, dan jelas ada pelanggaran hukum oleh MA sendiri. Bagaimana rakyat mau taat pada hukum kalau instansi tertinggi negara pun melanggarnya," tandas Prashant.

Mengenai isi dari putusan tersebut, Prashant mengatakan banyak ketidaksesuaian antara fakta hukum dan pertimbangan MA yang tertulis dalam putusan.

"Putusan ada di website MA sehingga masyarakat bisa membaca langsung bahwa tidak ada satu saksi pun dalam putusan yang dibuat MA itu. Semua pertimbangan MA itu adalah kebohongan yang bisa kami buktikan dengan rekaman persidangan yang kita ada," ungkap Prashant yakin.

Segala cara akan digunakan kubu Anand untuk membuktikan kejanggalan-kejanggalan putusan kasasi ini. Salah satunya mengadu ke DPR.

"Kami akan membawa ini ke Komisi III DPR. Ini bisa jadi contoh hakim yang merekayasa fakta hukum. Saya akan berjuang terus sampai hakim-hakim nakal itu di balik jeruji," pungkas Prashant.

Seperti diketahui Anand ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pelecehan seksual terhadap salah seorang muridnya, Tara Pradipta Laksmi. Lalu Anand duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Pada 22 November 2011, majelis hakim PN Jaksel yang diketuai oleh Albertina Ho memvonis Anand bebas. Anand tidak terbukti melakukan perbuatan asusila sebagaimana yang didakwakan. Jaksa lalu kasasi ke MA dan Anand dijatuhi hukuman 2,5 tahun.

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(asp/mok)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
94%
Kontra
6%