detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Minggu, 20/04/2014 20:42 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Jumat, 21/09/2012 08:23 WIB

Kolom Djoko Suud

Jokowi-Ahok Menang

Djoko Suud - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Akhirnya Jokowi-Ahok unggul. Mereka gemilang meraih itu. Filosofi menang nora ngasorake (menang dengan tidak merendahkan yang kalah) dipraktikkan. Dan pilkada DKI yang ketat itu pun berjalan sempurna. Aman, tertib, semoga amanah. Bagaimana peta politik Jakarta di tangan 'Solo-Belitung' itu nantinya?

Enam lembaga survei dalam penghitungan cepat menyebutkan Jokowi-Ahok mengungguli pasangan Foke-Nara. Ini sudah diprediksi. Malah mungkin karena lama saya tidak menulis di kolom ini, 'bos detik.com' sempat menelepon dan tanya, siapa kira-kira yang bakal menang dalam pilkada yang 'keras' ini.

Tanpa tedeng aling-aling saya menyebut, Jokowi-Ahok. Tapi kenapa kamu menjadi pendukung Foke-Nara? Jawaban saya, mendukung tidak harus jago yang didukung menang. Itu pilihan. Pilihan yang alasannya sangat personal.

Jokowi-Ahok memang layak menang. Kemenangan itu pertama didukung keinginan rakyat Jakarta yang ingin perubahan. Jalanan macet dan banjir bertahun-tahun telah menciptakan pengertian, bahwa tanpa pergantian pucuk pimpinan, maka dua persoalan itu tak akan terselesaikan.

Kedua, 'keliaran' Jokowi-Ahok di masing-masing daerah diasumsikan sebagai jawaban yang pas untuk membenahi Kota Jakarta. Jokowi berani 'melawan' Gubernur Jawa Tengah ketika kebijakannya dianggap tidak pro-rakyat Solo. Dan Ahok sebagai pengusaha yang pernah menerima tindakan semena-mena dari pejabat daerah berusaha menyudahi itu. Ini alasan Ahok terjun ke dunia politik sejak tahun 2003.

Ketiga, Foke-Nara sering membuat blunder dalam kampanyenya. Memilah warga Jakarta berdasar suku dan agama, serta melontarkan ucapan sinis terhadap lawannya. Akibat itu, warga Jakarta yang bukan kelahiran Jakarta mayoritas menjatuhkan pilihan pada Jokowi-Ahok. Terus bagaimana peta Jakarta di tangan Gubernur baru ini?

Saya yakin Jakarta semakin baik. Itu tak lepas dari dua sosok tokoh yang kini tinggal menunggu pengumuman kemenangan definitifnya itu. Keduanya figur yang diragukan kemampuan dan idealismenya membangun Jakarta. Rekam jejak Ahok yang 'kutu loncat' tidak dicari pembenarannya. Dan Jokowi yang 'hanya' Wali Kota Solo dianggap pencalonannya sebagai bentuk pencitraan. Next

Halaman 1 2

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(vit/vit)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%
MustRead close