detikcom
Kamis, 20/09/2012 11:01 WIB

Di Jakarta, Jokowi Tak Sewa Hotel Tapi Tinggal di Rumah Bernuansa Solo

Ferdinan - detikNews
Jakarta - Selama wira-wiri Solo-Jakarta, Cagub DKI Jakarta Joko Widodo tidak menginap di hotel nan megah di Ibukota. Ia memilih menghuni rumah sang sahabat yang bernuansa Solo.

Jokowi menerima tawaran pendukungnya bernama Rio untuk menginap di rumahnya di Pejaten, Pasar Minggu, Jaksel.

Jokowi menetap di rumah singgah yang diberi nama 'Rumah Saya' itu selama mondar-mandir Solo-Jakarta selama mengurusi Pilgub DKI Jakarta. Rumah itu asri dengan nuansa Solo.

"Saya paling seneng, suasananya longgar," kata Jokowi saat ditanya mengapa memilih rumah sahabatnya dibanding menginap di hotel.

"Yang punya rumahnya Pak Rio, dititipkan ke saya," sambung Jokowi di Jalan Batu Arab I, Nomor 3 C Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu.

Si pemilik rumah, Rio, mengaku rumahnya ditempati tanpa memungut uang sewa. "Waktu Pak Jokowi ke Jakarta kan bingung mau tinggal di mana, langsung saya tawarkan di sini dan dia mau," Rio.

Saat ini Jokowi tengah menemani Megawati Soekarnoputri untuk mencoblos di TPS 031, Kebagusan, Pasar Minggu, Jaksel.

Sama seperti putaran pertama, Jokowi tidak mengenakan kemeja kotak-kotak ketika menemani Mega. Jokowi memilih mengenakan kemeja panjang warna putih.


(fdn/aan)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    47%
    Kontra
    53%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel