detikcom
Selasa, 18/09/2012 06:44 WIB

Dipukuli Hingga Buta Tapi Dipenjara

Amar Divonis Penjara 2 bulan 7 Hari, Istri: Saya Tidak Ikhlas!

Rivki - detikNews
Amar menunggu sidang di PN Jaktim (foto: Hasan/detikcom)
Jakarta - Masih ingat dengan kasus gara-gara menendang pagar milik tetangga seorang pria bernama Amar Abdullah dipukuli hingga buta? Ya, Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis pria berumur 38 tahun itu dengan kurungan 2 bulan 7 hari penjara.

Amar didakwa pasal perbuatan tidak menyenangkan karena menendang pagar rumah milik Fenly M Tumbuun di Jl Kayu Manis VI, Jakarta Timur. Namun, Sang istri Neneng merasa tidak ikhlas atas putusan penjara tersebut.

"Suami saya divonis penjara 2 bulan 7 hari, dia didakwa pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan," ujar Istri Amar, Neneng, saat berbincang dengan detikcom, Senin (17/9/2012).

Meski Amar divonis penjara selama 2 bulan lebih, namun Amar telah menjalani masa penahanan selama 124 hari, dengan begitu Amar tidak perlu menjalani masa kurungan lagi. Kendati demikian, sang istri merasa putusan itu tidak adil.

"Saya tidak ikhlas akan putusan itu. Soalnya suami saya tidak salah kenapa harus diputus bersalah," ungkap Neneng dengan suara liri.

Neneng menambahkan, kondisi kesehatan Amar sendiri masih belum stabil. Dokter menyarankan supaya Amar memasang mata palsu guna menutup lukanya.

Kisah duka Amar terjadi pada 11 Juli 2011 saat dia lewat di depan rumah Fenly M Tumbuun di Jl Kayu Manis VI, Matraman, Jakarta Timur. Anjing milik Fenly menyalak, membuat Amar terkejut dan refleks menendang pintu pagar Fenly. Fenly tak terima dengan sikap Amar lalu memukulnya dengan benda pukul.

Amar yang kemudian buta akibat pukulan itu, melapor ke polisi dengan tuduhan penganiayaan. Kasus ini diproses dan menjalani persidangan terlebih dahulu, hingga akhirnya Fenly dijatuhi vonis 2,5 tahun penjara oleh PN Jaktim.

Fenly yang merasa tidak terima lalu mengadukan balik Amar ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Amar ditahan di Rutan Cipinang sejak pelimpahan berkas tahap II pada 7 Desember lalu.

(rvk/fdn)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel