detikcom
Minggu, 09/09/2012 12:52 WIB

Bom Depok

SBY Perintahkan Pria Misterius yang Kabur dari TKP Bom Depok Dikejar

Ferdinan - detikNews
foto: detikcom
Jakarta - Menteri Polhukam Djoko Suyanto telah melaporkan kasus ledakan bom di Beji, Depok, kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang saat ini menghadari KTT APEC di Rusia. Presiden SBY memerintahkan kepada Polri untuk bekerjasama dengan BNPT dan aparat terkait mengejar dua pria misterius yang melarikan diri sesaat sebelum bom meledak.

"Tadi malam pukul 23.30 WIB saya telah melaporkan. Tentu saja laporan sementara bahwa ada yang terluka kemudian olah TKP dan tindakan selanjutnya. Bapak Presiden memberikan arahan agar dilakukan pengejaran terhadap yang diduga melarikan diri dan itu telah dilakukan BNPT bersama Polri dan aparat terkait lainnya," kata Djoko dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu (9/9/2012).

Presiden SBY juga meminta semua korban ledakan di Depok dirawat sebaik-baiknya. Termasuk terduga pelaku yang tengah dirawat di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

"Arahan Bapak Presiden bagi yang dirawat apakah itu korban, pelaku, atau siapapun agar dilakukan perawatan sebaik mungkin sehingga kalau memang korban itu bisa dicari informasi sedalam-dalamnya," katanya.

Menko Polhukam menunggu kemajuan olah TKP Polri, untuk dilaporkan kembali hasilnya ke Presiden SBY. "Untuk sementara kami belum bisa menyimpulkan apakah terkait dengan teror-teror sebelumnya,"tandasnya.

Ledakan besar menghancurkan sebuah bangunan yang terdiri dari tiga petak kontrakan, di Jl Nusantara No 63, RT 04/13, Beji, Depok, Sabtu (8/9/2012) pukul 21.05 WIB.

Tiga orang terluka, termasuk seorang pria yang tangannya nyaris buntung dan badan terbakar,yang diduga bernama Thorik. Thoriq diburu akibat ledakan di Tambora, Jakarta Barat. Untuk memastikan apakah benar Thorik atau bukan, polisi akan mengadakan tes DNA dengan ibu Thorik.

(van/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel