detikcom
Minggu, 09/09/2012 12:14 WIB

Bom Depok

Tim Inafis Ambil Data dari Terduga Thorik di RS Polri

Ahmad Juwari - detikNews
foto: detikcom
Jakarta - Tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Mabes Polri mengambil data dari terduga Thorik yang sedang dirawat di RS Polri. Belum diketahui data apa saja yang diambil oleh tim Inafis kepada pria yang terluka parah akibat bom Depok itu.

Dua orang anggota tim Inafis datang ke RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, Minggu (9/9/2012), pukul 11.00 WIB dan langsung masuk ke ruang perawatan terduga Thorik di UGD RS Polri. Dua anggota tim Inafis yang mengenakan seragam oranye bertulis Inafis ini baru meninggalkan RS Polri pukul 11.30 WIB.

Saat dikonfirmasi awak media mengenai data yang diambil, kedua anggota tim Inafis yang membawa tas ransel warna hitam tersebut diam saja. Keduanya keluar lewat pintu belakang ruang UGD RS Polri, dan langsung masuk ke mobil Inafis berwarna oranye meluncur meninggalkan RS Polri.

Situasi di RS Polri sendiri tidak tampak ada pengamanan berlebihan. Hanya ada beberapa polisi berjaga di sekitar ruang UGD. Sementara belasan wartawan masih terus menunggu perkembangan dari kondisi kesehatan dan kepastian apakah korban bom Depok yang dirawat di RS Polri adalah Thorik.

Polisi baru bisa menduga pria yang mengalami luka parah dalam ledakan bom di Beji, Depok, adalah Thorik. Untuk memastikan dugaan itu, polisi akan melakukan tes DNA pria yang telah berstatus tersangka itu dengan ibu kandung Thorik.

"Ya masih mirip (dengan Thorik), tapi nanti yang menentukan ada hasil dari pemeriksaan. Untuk memastikan itu Thorik menunggu hasil identifikasi DNA dari ibu (Thorik)," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Untung S Rajab, saat meninjau lokasi ledakan bom di Jl Nusantara No 63, RT 04/13, Beji, Depok, Minggu (9/9/2012).

Untung mengimbau masyarakat tidak menyimpulkan terlalu dini bahwa orang yang terluka dalam ledakan bom di Depok itu adalah Thorik. Thorik adalah pemilik bom rakitan yang meletup pada Rabu malam di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

"Diambil (DNA) untuk mengenali apa betul ada hubungan keluarga, betul nggak keturunannya. Jangan langsung menyimpulkan itu terlalu dini," tutur Untung.

(van/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    MustRead close