Sabtu, 11/08/2012 17:12 WIB

Jokowi-PKS, di Solo Kawan di Jakarta Lawan

Andi Saputra - detikNews
Deklarasi PKS-Foke (rengga/detikcom)
Jakarta - Usai resmi mendukung Fauzi Bowo, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini siap berhadap-hadapan dengan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahja Purnama. Peta politik ini bertolak belakang dengan yang terjadi di Solo, saat Jokowi didukung oleh PKS menjadi wali kota Solo.

Pada perhelatan Pilkada Solo pada 2010 lalu, Mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid menjadi juru kampanye untuk kemenangan Jokowi yang berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo sebagai Walikota Solo. Pasangan Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo diusung oleh PDI Perjuangan, dan mendapat dukungan penuh dari PKS, Partai Amanat Nasional (PAN), serta Partai Damai Sejahtera.

"Karena PKS juga ikut mendukung pasangan Jokowi, saya sebagai kader PKS siap memperjuangkan dan mensukseskan pasangan Jokowi-Rudi," kata Hidayat kepada wartawan pada Sabtu 13 Maret 2010 lalu.

Dukungan Hidayat dan PKS kepada Jokowi saat itu, mengantarkan Jokowi-Hadi menjadi orang nomor satu di Solo untuk kedua kalinya. Saat itu, Jokowi-Hadi meraih 90 persen suara. Dia mengalahkan pasangan Eddy S Wirabhumi-Supradi Kertamenawi yang diusung Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Mesra di Solo, tidak di Jakarta. Kini secara terang-terangan Hidayat Nur Wahid dan PKS mendukung Fauzi Bowo untuk mengalahkan Jokowi-Ahok dalam perebutan kursi DKI 1. Mengantongi suara kisaran 10 persen pada Pilgub DKI Jakarta putaran pertama, PKS memberikannya kepada Foke dengan sejumlah 'mahar'.

"Pertimbangan putaran kedua ini bukan masalah agama tapi terkait dengan kepastian kemampuan mereka untuk mengakomodasi program kerja yang kami perjuangkan pada waktu pilgub," ujar Hidayat usai jumpa pers PKS dalam mendukung pasangan Foke-Nara di Kantor DPP PKS Jl TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (11/8/2012).

Lalu apa kata Jokowi atas perubahan peta politik ini?

"Ya nggak apa-apa. Mereka punya hak untuk memilih," ujar Jokowi di sela-sela acara silahturahmi dengan para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta.


(asp/mad)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel