detikcom
Sabtu, 11/08/2012 13:39 WIB

Pemimpin Indonesia Harus Budayawan Dulu Baru Negarawan

Septiana Ledysia - detikNews
Jakarta - Pemimpin Indonesia yang sekarang dianggap tidak membuat Indonesia berubah. Dan belum bisa memerdekakan rakyatnya. Oleh karena itu kita harus memilih pemimpin yang budayawan dulu baru negarawan.

Hal itu disampaikan oleh Budayawan Rhadar Panca Dahana dalam Polemik Sindo Radio "Merdeka Itu Relatif" di Warung Daun, Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2012).

Rhadar mengatakan pemimpin Indonesia yang baru harus pemimpin yang mempunyai jati diri dan karakter yang di basiskan pada kekayaan budaya Indonesia."Mengikuti nilai kekayaan budaya 700 masehi lalu," ujarnya.

Rhadar juga berujar bahwa pemimpin saat ini merupakan pemimpin yang gagal. Karena sudah menghina kebudayaan.

"Pemimpin sekarang tidak bisa. Karena sudah menghina kebudayaan. Anggaran untuk kementrian kebudayaan saja kecil," ujar Rhadar.

Tidak terlalu pedulinya pemerintahan saat ini terhadap kebudayaan yang membuat banyak kebudayaan kita diambil oleh negara luar. Dan banyaknya kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia.

"Karena kebudayaan kita tidak dipelihara. Jadi orang Indonesia hilang pegangan. Makanya Jadinya orang luar yang kita implemantisikan. Contohnya KPOP," ujar lelaki yang berkemeja hitam tersebut.


Ikiti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(spt/gah)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
    Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
    Gb Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%