detikcom
Sabtu, 11/08/2012 09:27 WIB

Jangan Cuma untuk Kasus SIM, Polri Harus Cepat Juga Usut Perkara Lain

Moksa Hutasoit - detikNews
Jakarta - Dalam penanganan kasus simulator SIM, penanganan yang dilakukan Mabes Polri memang bergerak sangat cepat. Kecepatan seperti itu harusnya juga dipertontonkan polisi saat menangani kasus korupsi lainnya.

"Tidak boleh ada standart ganda dalam penegakan hukum. Nanti bisa timbul pertanyaan, ada apa ini," kritik peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Fakultas Hukum (FH), Universitas Gadjah Mada (UGM) Oce Madril, saat berbincang, Sabtu (11/8/2012).

Dalam setiap harinya, setelah menetapkan lima tersangka, Polri bergerak cepat. Usai penetapan Brigjen Didik Purnomo, AKBP Teddy Rusmawan, Kompol Legino, Sukotjo Bambang, serta Budi Santoso, keesokan harinya, ketiga perwira itu dinonaktifkan.

Setelah itu, seluruh tersangka itu resmi ditahan Bareskrim, minus Sukotjo yang sudah lebih dulu mendekam di Rutan Kebon Waru, Bandung Jawa Barat. Dan yang paling pamungkas, Mabes Polri menonaktifkan Irjen Djoko Susilo yang sudah berstatus tersangka di KPK.

"Kalau tegas di satu kasus, harus polisi juga lakukan hal yang sama di kasus lainnya," lanjut Oce lagi.

Selain kasus Korlantas, ada juga perkara rekening gendut yang menyita perhatian publik. Lalu ada juga korupsi alat kesehatan dengan tersangka Siti Fadilah Supari. Namun kedua kasus ini terkesan adem ayem saja.

"Kalau biasanya Polri tidak terlalu ngotot dalam penegakan hukum, tapi kok di Korlantas terkesan ngotot. Malah terkesan over reaktif," sindirnya.


seorang Bocah SD diadu Berkelahi Oleh temannya Hingga Muntah darah. Saksikan Informasi Selengkapnya di "Reportase Pagi", pukul 04.26 - 05.23 WIB, hanya di TRANS TV

(mok/mok)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
    Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
    Gb Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%