Rabu, 08/08/2012 15:39 WIB
Mencari Metode Eksekusi Mati yang Manusiawi

AS menggunakan tujuh metode eksekusi berbeda
Kombinasi tiga jenis obat yang digunakan banyak negara bagian di AS dalam eksekusi pelaku kejahatan terkadang tidak selalu efektif karena dinilai menyakitkan. Apakah menggunakan metode baru akan membungkam kritik?
Pada 1 Agustus tahun ini, Ronald Smith seharusnya mati.
Ia divonis mati oleh negara bagian Montana untuk dua kasus pembunuhan yang dilakukannya lebih dari 30 tahun silam. Tetapi setelah tiga dekade menunggu eksekusi dan beberapa jadwal eksekusi yang ditunda, kini perubahan hukum telah menyebabkan satu lagi penundaan.
Tantangan ini tidak terkait dengan kejahatan yang dilakukan Smith; tetapi metode yang akan digunakan negara bagian untuk mengakhiri hidupnya.
Perserikatan Kebebasan Sipil Amerika (ACLU), yang membawa kasus ini, mengklaim bahwa protokol tiga-obat yang digunakan Montana dalam eksekusi dapat menyebabkan penderitaan yang tidak perlu.
Dirancang oleh ahli anestesi Stanley Deutsch sebagai cara yang "sangat manusiawi" untuk mengakhiri hidupnya, metode itu seharusnya bekerja dengan cepat dan tanpa rasa sakit.
Luka bakar kimia
Tetapi beberapa kasus terkini mengenai eksekusi dengan metode injeksi obat yang menyakitkan memicu perdebatan mengenai nilai metode ini.
Sejak digunakan di Texas pertama kali pada 1982, metode yang disebut koktail tiga obat itu, menjadi metode eksekusi standar di AS.
Obat pertama, barbiturat, mematikan sistem syaraf pusat, dan membuat narapidana tidak sadarkan diri.
Obat kedua melumpuhkan otot dan menghentikan pernafasan narapidana. Yang ketiga, potasium klorida, menghentikan detak jantung.
Metode ini dinyatakan sebagai pengganti yang lebih manusiawi untuk gas mematikan dan kursi listrik.
Tapi para kritikus merasa skeptis.
"Tidak mungkin untuk dapat mengerti apa yang dilakukan obat ini pada manusia," kata Deborah Denno, profesor hukum dari Universitas Fordham di New York.
"Mereka mungkin saja tidak sadarkan diri [oleh obat pertama] untuk berteriak, atau mereka kesakitan, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa karena syaraf dikunci oleh obat kedua."
Eksekusi gagal

Setelah dua jam, eksekusi terhadap Rommel Broom dihentikan
Eksekusi Angel Diaz di Florida pada 14 Desember 2006 memakan watu 34 menit, dan injeksi ulang untuk menyelesaikannya.
Para saksi eksekusi melaporkan Diaz "tersengal-sengal" dan "wajahnya menahan sakit" selama prosedur itu.
Otopsi kemudian menemukan adanya luka bakar kimia di kedua lengan Diaz, dimana jarum disuntikkan ke dalam urat nadi dan jaringan tipis.
Jeb Bush, gubernur Florida saat itu, untuk sementara menunda semua eksekusi di hari berikutnya.
Berdasarkan laporan, narapidana itu kemungkinan meninggal dunia dari "sesak nafas" yang disebabkan oleh obat pengunci syaraf, dan ia mungkin mengalami "sensasi terbakar akibat potasium."
Tim pengacara dan pakar kesehatan yang menulis laporan itu menyimpulkan, "Pandangan konvensional mengenai injeksi mematikan dapat membuat proses kematian damai dan tanpa rasa sakit, kini dipertanyakan."
Pada 2009, setelah dua jam berusaha mengeksekusi Rommel Broom dengan koktail tiga obat, Ohio menjadi negara bagian pertama yang mengubah prosedurnya dari dosis tunggal menjadi anestesi.
Tim eksekusi kesulitan menemukan nadi yang tepat untuk menyuntikkan obat itu. Setelah 18 suntikan, ia dikembalikan ke sel dan belum dieksekusi ulang.
Setelah Ohio, negara bagian lain menyusul.
Meski 24 dari 33 negara bagian AS yang menerapkan hukuman mati masih menggunakan protokol tiga obat, lima negara bagian kini menggunakan metode obat tunggal, dan empat lainnya mengumumkan niat mereka untuk beralih pada injeksi satu obat mematikan.
"Dalam dua tahun terakhir, kita telah melihat banyak perubahan dalam protokol obat sepanjang sejarah injeksi mematikan," kata Prof. Denno.
Negara-negara bagian yang mengubah metode mereka menolak menjelaskan alasannya.
(bbc/bbc)
Komentar (0 Komentar)
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Kamis, 23/05/2013 19:26 WIB
Malaysia Ciduk Aktivis dan Politikus Oposisi
-
Kamis, 23/05/2013 18:45 WIB
PM Inggris: Serangan atas tentara pengkhianatan terhadap Islam
-
Kamis, 23/05/2013 17:30 WIB
Polisi tangkap teroris tersangka serangan Kedutaan Burma
-
Kamis, 23/05/2013 17:27 WIB
4 Ribuan Lukisan Kuno Ditemukan di Gua Meksiko
-
Kamis, 23/05/2013 13:54 WIB
Seniman dan Pembangkang Cina Rilis Lagu Antipemerintah
-
Jumat, 24/05/2013 03:41 WIB
Demi Hidup Mewah, Pegawai Bank Rela Alih Profesi Jadi Pengedar Sabu
-
Jumat, 24/05/2013 04:45 WIB
Jokowi Lantik Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Siapa Tergusur?
-
Jumat, 24/05/2013 02:40 WIB
Napi Tato Tweety Jual Sabu: Di Penjara Tak Ada yang Gratis
-
Jumat, 24/05/2013 03:30 WIB
Minim Pendaftar Laki-laki, KPAI Perpanjang Lowongan Komisioner
-
Jumat, 24/05/2013 01:45 WIB
Bea dan Cukai: Kapal Patroli Justru Diserang KM Wahyu
-
Jumat, 24/05/2013 00:16 WIB
Tentara Inggris yang Dibunuh dengan Sadis Bernama Lee Rigby
-
Jumat, 24/05/2013 00:02 WIB
Raba Bokong Perempuan di TransJ, Pria Ini Dibawa ke Kantor Polisi
-
Jumat, 24/05/2013 01:04 WIB
4.564 Siswa Tak Lulus UN di Sumut
-
580 Komentar
-
363 Komentar
-
217 Komentar
-
216 Komentar
-
198 Komentar
-
145 Komentar
-
136 Komentar
-
135 Komentar
-
Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Kamis, 23/05/2013 19:41 WIB
Tidak Terima Uang, Elsya Malah Kirim Rp 2 M ke Fathanah
-
Kamis, 23/05/2013 17:46 WIB
Istri Ahmad Zaki Penuhi Panggilan KPK
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

.gif)
Made Tantrawan (21), mahasiswa Fakultas MIPA UGM memiliki catatan prestasi yang luar biasa. Ia menjadi langganan juara olimpiade internasional dan kini lulus dengan sempurna. Apa resepnya?
Perlawanan para koruptor memang bervariasi. Sejak pertama kali pemberantasan korupsi dilakukan pada permulaan revolusi di Indonesia, tahun 1957, perlawanan sudah terjadi. Perlawanan para koruptor sudah merupakan hukum besi. Hukum perlawanan adalah hukum kemestian.
