Rabu, 08/08/2012 10:35 WIB

AS Suntik Mati Pria Cacat Mental di Tengah Kritikan Internasional

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Ilustrasi
Texas, - Otoritas Texas, Amerika Serikat (AS), menyuntik mati seorang pria yang divonis mati atas kasus pembunuhan. Eksekusi ini dilakukan di tengah protes keras dari para aktivis HAM yang menentang eksekusi mati merujuk gangguan mental yang diderita pria tersebut.

Pria keturunan Afrika-Amerika bernama Marvin Wilson dinyatakan bersalah atas pembunuhan seorang informan polisi pada tahun 1992 silam. Sebelum dihukum mati, Wilson sempat mengungkapkan rasa sayangnya kepada seluruh keluarganya.

"Bawa aku pulang Tuhan. Saya menyayangi kalian semua. Saya siap," demikian pernyataan terakhir Wilson sebelum disuntik mati, seperti dilansir oleh AFP, Rabu (8/8/2012).

Departemen Kehakiman Texas menyatakan, Wilson yang berusia 37 tahun ini meninggal dunia setelah disuntik mati pada Selasa (7/8), sekitar pukul 18.27 waktu setempat.

Eksekusi mati Wilson ini menulai kritik dan kecaman dari sejumlah organisasi HAM. Salah satunya, Amnesty International yang menyebut eksekusi mati tersebut 'sangat mengganggu' rasa kemanusiaan. Diketahui bahwa pada tahun 2004 lalu, Wilson didiagnosa menderita keterbelakangan mental ringan: tingkat intelejensi atau IQ-nya hanya mencapai 61, yang berarti di bawah rata-rata untuk orang seusianya.

Pihak pengacara telah mengajukan banding hingga ke Mahkamah Agung (MA) AS untuk menunda eksekusi mati tersebut, namun ditolak. "Kami sangat kecewa dan sedih karena MA menolak banding kami untuk menunda jadwal eksekusi. Ini cukup memalukan karena negara bagian seperti Texas terus saja mengabaikan pedoman... untuk menentukan bahwa warga penyandang cacat intelektual terbebas dari eksekusi," ucap pengacara Wilson, Lee Kovarsky.

Sejak tahun 2002, Mahkamah Agung AS menentang eksekusi mati terhadap narapidana yang menderita keterbelakangan mental. Namun, MA menyerahkan kepada setiap negara bagian untuk menentukan definisi penyandang cacat mental. Dan menurut definisi otoritas Texas, Wilson tidak termasuk dalam kategori penyandang cacat mental.

Bulan lalu, seorang pria keturunan Afrika-Amerika lainnya, Yokamon Hearn (34), yang juga didiagnosa menderita keterbelakangan mental dieksekusi mati oleh otoritas Texas. Eksekusi mati ini juga dilakukan di tengah-tengah protes aktivis HAM internasional. Wilson tercatat sebagai narapidana ke-25 yang dieksekusi mati di AS pada tahun ini, dan merupakan narapidana ke-7 yang dieksekusi mati di Texas.

(nvc/ita)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
      15 Tahun Reformasi
      Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
      Gb Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel