Selasa, 07/08/2012 19:45 WIB

Kolma

Jokowi, Ojo Koyo Kuwi

Eddi Santosa - detikNews
Den Haag - Jokowi akan rugi jika terjebak lebih jauh ke dalam posisi 'berseteru dengan Rhoma Irama'. Sudah terlihat para simpatisan Jokowi di fora internet mulai menyerang pribadi Rhoma dan itu bukan tanpa konsekuensi. Sebab, fans Rhoma bisa sakit hati, lalu menyeberang ke Foke karena tidak rela idolanya diserang.Satu saja antipati fans Rhoma pada Jokowi itu sudah merupakan kerugian.

Jokowi harus menentukan strategi untuk keluar dari situasi ini dan segera membalikkan tendens, agar potensi kerugian bisa segera dilokalisir. Patut disadari bahwa perhatian beberapa media pada kasus Rhoma tidak berbanding lurus dengan kepentingan Jokowi dalam menempuh jalan berat menuju kursi Gubernur DKI.Jokowi harus menyadari itu. Ingat, Rhoma Irama adalah sebuah 'institusi' sekaligus legenda hidup di bidangnya. Fans Rhoma sangat fanatik. Bukan lagi sekadar fans sebagaimana pada tokoh musik lainnya, tapi nyaris dapat disebut sebagai pengikut, lengkap dengan hal-hal irasionalnya.

Selain itu, secara substansi unsur 'penghinaan', menyebarkan 'kebencian' suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) seperti terpantau dari pemberitaan beberapa media baru sebatas interpretasi sepihak atas video yang dibocorkan salah satu peserta ceramah tarawihnya Rhoma. Lembaga pengawas pasti terlebih dulu akan menerapkan azas audiatur et altera pars dengan memanggil Rhoma dan pihak-pihak terkait lainnya, sebelum bisa ditarik suatu kesimpulan.

Jika akhirnya terklarifikasi bahwa isi ceramah Rhoma adalah mengenai ayat-ayat kriteria memilih pemimpin menurut agama, maka kriteria semacam itu juga terdapat dalam ajaran agama lainnya. Rhoma akan punya alibi kuat, apalagi ceramahnya disampaikan dalam forum di rumah ibadah. Jokowi, termasuk partai pendukungnya, bisa dipersepsi sebagai bersikap berlebih-lebihan, bahkan dapat dicitrakan sebagai anti-islam, islamophobia. Sangat berisiko. Jika pun Rhoma bisa dihukum dan masuk penjara, lagi-lagi Jokowi yang rugi. Jokowi akan dipandang sebagai telah menzalimi Rhoma dan Rhoma di mata pendukungnya akan menjadi martir korban Jokowi.

Jadi, ojo koyo kuwi. Dibolak-balik, kesan ada 'Jokowi vs Rhoma' dan proses terhadap Rhoma sangat tidak menguntungkan bagi Jokowi. Hanya akan memecah konsentrasi dan menguras sumber daya. Lebih baik fokuskan konsentrasi ke Foke. Rival Jokowi adalah Foke, bukan Rhoma. Jokowi memerlukan soliditas dukungan dari semua elemen masyarakat, termasuk dari fans setia Rhoma. Eskalasi isu ini, jika tidak terkendali dengan baik, bisa kontraproduktif bagi Jokowi di putaran kedua.

Oostpoort, 7 Agustus 2012

Keterangan penulis:

Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan redaksi. (es/es)



Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    75%
    Kontra
    25%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    MustRead close