Sabtu, 04/08/2012 22:36 WIB
SBY: Tidak Ada Indikasi Genosida di Myanmar
"Sejauh ini tidak ada indikasi genosida," ujar Presiden SBY dalam keterangan pers di kediaman pribadinya di Cikeas, Kab. Bogor, Sabtu (4/8/2012).
Pernyataannya SBY berdasar laporan KBRI di Myanmar dan Menlu Marty Natalegawa yang telah melakukan peninjauan ke lokasi konflik etnis Rohingya dengan Rakhai. Peninjauan dilakukan bersama rombongan korps diplomatik dan PBB yang difasilitasi oleh pemerintah Myanmar menyusul meningkatnya konflik pada Mei-Juni lalu.
Presiden SBY mengawali keterangan pers pada sore hari ini dengan memaparkan inti masalah koflik komunal di Myanmar yang situasinya kurang lebih serupa konflik di Poso. Etnis minoritas Rohingya asal Bangladesh, selama empat generasi terakhir belum diakui oleh pemerintah Myanmar sebagai bagian dari 135 etnis yang ada.
Selama itu pula, di tempat kediamannya etnis Rohingya terlibat konflik dengan etnis Rakhai yang beragama Budha. Konflik tersebut berlangsung sudah cukup lama dan pada dua bulan terakhir terjadi peningkatan intensitas yang menewaskan 77 orang, 109 orang luka-luka, lima ribuan rumah rusak atau terbakar, 17 masjid dan 15 monastries (rumah ibadah Budha) rusak.
Akibat konflik yang berlangsung pada Mei-Juni lalu, jumlah pengungsi dari etnis Rohingya meningkat dari 28 ribu menjadi 53 ribu. Sementara pada saat bersamaan pengungsi dari etnis Rakhai di berbagai tempat penampungan pengungsi tercatat sebanyak 24 ribu orang. Kondisi ini yang kemudian memunculkan isu kemanusiaan bahkan kecemburuan.
"Ada penilaian penanganan pengungsi Rakhai oleh pemerintah Myanmar lebih baik dibanding yang terhadap Rohingya. Tetapi sebaliknya, perhatian terhadap Rohingya oleh PBB dianggap lebih baik dibanding Rakhai. Maka terjadi kecemburuan penanganan," papar SBY.
Lebih lanjut Presiden SBY menegaskan, telah ada kebijakan pemerintah untuk menampung para pengungsi etnis Rohingya. Terlebih sebagian negara ASEAN menolak menerima mereka termasuk Bangladesh yang merupakan negara asal etnis Rohingya.
"Saat ini tercatat ada 270 orang pencari suaka dan 120 orang pengungsi," sambungnya.
Presiden SBY juga menekankan kesiapan Indonesia untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bahkan membangun kembali perkampungan dua etnis yang rusak akibat konflik. Namun segala sesuatunya dilakukan secara hati-hati melalui jalur diplomasi mengingat Myanmar sedang dalam upaya rekonsiliasi nasional dan demokratisasi.
"Sebenarnya pemerintah Myanmar sedang berusaha untuk mengatasi. Kita ketahui pemerintah Myanmar sekarang ini tengah melakukan upaya yang juga sangat serius untuk demokratisasi dan rekonsiliasi di antara pihak berseberangan dan nation building di antara komponen yang ada setelah dilaksanakan pemilu beberapa saat lalu," jelas SBY.
(lh/trq)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Polri Tugasnya untuk Kemanusiaan, Bukan Berbisnis!
812 share this. -
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
614 share this. -
Duh! Gadis 16 Tahun di Australia Diperkosa Bergiliran oleh 3 Pria
570 share this. -
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
527 share this. -
Ini 3 Hakim Agung yang Kalahkan Konglomerat Swedia Pemilik IKEA
418 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Senin, 20/05/2013 21:23 WIB
Polisi Tangkap Pelaku yang Diduga Potong Alat Kelamin Abdul Muhyi
-
Senin, 20/05/2013 21:09 WIB
Warga Klender Minta Jokowi Selesaikan Sengketa Tanah di Gusti Ngurah Rai
-
Senin, 20/05/2013 20:59 WIB
Dirjen Pajak Minta KPK Usut Pengakuan Tersangka Suap Eko Darmayanto
-
Senin, 20/05/2013 20:47 WIB
11 Jam Diperiksa KPK, Dada Enggan Banyak Komentar
-
Senin, 20/05/2013 20:27 WIB
Pesawat Malaysia Airlines Hampir Salah Mendarat di Bandara Kuala Namu
-
Senin, 20/05/2013 20:27 WIB
Pesawat Malaysia Airlines Hampir Salah Mendarat di Bandara Kuala Namu
-
Senin, 20/05/2013 21:23 WIB
Polisi Tangkap Pelaku yang Diduga Potong Alat Kelamin Abdul Muhyi
-
Senin, 20/05/2013 21:34 WIB
Pelaku yang Diduga Potong Alat Kelamin Abdul Muhyi Seorang Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 19:23 WIB
KPK: Data Oknum PKS yang Terima Dana dari Fathanah Akan Dibuka di Sidang
-
Senin, 20/05/2013 20:59 WIB
Dirjen Pajak Minta KPK Usut Pengakuan Tersangka Suap Eko Darmayanto
-
Senin, 20/05/2013 18:44 WIB
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 21:09 WIB
Warga Klender Minta Jokowi Selesaikan Sengketa Tanah di Gusti Ngurah Rai
-
Senin, 20/05/2013 20:07 WIB
Kabareskrim: Yang Ikut Menikmati Uang Aiptu Labora Bisa Dipidana
-
353 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
213 Komentar
-
210 Komentar
-
208 Komentar
-
201 Komentar
-
174 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,837.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 17:00 WIB
Dituding Singkap Rok Siswi SD, FS Mengaku Bantu Bukakan Sepatu
-
Senin, 20/05/2013 16:41 WIB
Terkait Fathanah, Tri Kurnia Kembalikan Uang Rp 400 Juta ke KPK
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


.gif)





_5.gif)





Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

