Jumat, 03/08/2012 10:16 WIB
Krisis Kedelai Bentuk tidak Serius Melindungi Rakyat
Namun mayoritas 90% masyarakat petani selalu menjadi bulan-bulanan kaum pemegang modal alias kapitalis, terus apa yang didengungkan dalam UUD 45 pasal 33 telah lenyap oleh pragmatisme belaka.
Petani hanya sebagai simbul dari orang-rang terpinggirkan, namun mereka diangkat dan disanjung saat maraknya PILKADA, Caleg, bahkan Pilpres.
Organisasi-oragnisasi kemasyrakatan seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dewan Tani Indonesia, dan lain-lain sebagainya, hanya sebagai tunggangan para politisi menjual ocehannya tanda program yang tidak ada kepentingannya dengan masyarakat petani.
Contoh riil, krisis kedelai adalah bentuk ketidakmampuan melindungi masyarakat yang nota bone menggunakan komoditi kedelai sebagai bahan pokok kebutuhan sehari-hari, seperti bahan pembuatan tahu dan tempe, minuman susu, obat-botan.
Kebutuhan kedelai Indonesia dalam satu tahun adalah 3.000.000 ton, Indonesia yang kini hanya mampu memproduksi kedelai 860.000 ton/tahun atau 30 persen dari 3 juta ton kedelai kebutuhan secara nasional per tahun, akan mampu memenuhi kebutuhan itu setahap demi tahap.
Perbandingan Untuk padi, peningkatan produksi dari tahun 2005-2011 hanya sebesar 21,4 persen, peningkatan produksi jagung sebesar 40,76 persen, ubi kayu (24,26 persen), ubi jalar (18,05 persen), kedelai (4,38 persen) dan kacang tanah (-17,17 persen).
Ini menunjukan bahwa petani Indonesia kurang berminat di komoditi kedelai, beberapa sebab sebagai indikatornya antara lain, bahwa perdagangan kedelai dikuasai kartel besar, biaya produksi lebih tinggi dari harga jualnya.
Sebenarnya peranan Badan Urusan logistic (BULOG) bisa mengendalikan harga di tingkatan petani, Pemerintah harus mendorong masyarakat petani menanam kedelai.
Sementara penghapusan bea masuk dan penyesuaian konsumsi hanya menjadi solusi jangka pendek. Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mengatakan, pemerintah harus realistis dalam menghadapi persoalan kekurangan pasokan kedelai sebab angka konsumsi yang per tahun mencapai 26 juta ton sangat jauh di atas produksi nasional yang hanya sekitar 600-800.000 ton.
Yang menjadi persoalan kemalasan memproduksi dengan alasan biaya produksi tinggi, dan mementingkan pasokan import karena lebih menguntungkan sangat berdampak apabila Negara pemasok mengalami kesulitan produksi seperti di Amerika Serikat, Brazilia, China, Argentina.
Sementara Koperasi Pengerajin Tahu Tempe (KOPTI) sangat membutuhkan pasokan kedelai sebagai bahan baku pokok, belum lagi untuk minuman dan obat-obatan, bahn kecantikan dan lain-lain.
Manfaatkan Potensi
- Banyaknya lahan kosong di Indonesia, dapat menjadi salah satu solusi manangani krisis kedelai, lahan-lahan gundul bekas rekalmasi tambang batu bara di kalaimantan salah satu alternatip penciptaan swasembada kedelai, karena untuk mendapatkan 3.000.000 ton/tahun dibutuhkan ribuan hektar, bahkan sampai 10.000 hektar dengan program ekstensifikasi pertanian.
- Peran BULOG sebagai instrument Pemerintah dalam rangka stabilisasi ketahanan pangan Indonesia, untuk dioptimalkan sebagaimana mestinya.
- Mengoptimalkan dan memotivasi lembaga-lembaga usaha masyarakat seperti Koperasi Unit Desa KUD dan kelompok-kelompok Tani untuk membudidayakan komoditi kedelai, selain tanaman padi dan palawija lainnya.
- Menyediakan bibit unggul kedelai dan pupuk serta obat-obatan murah agar dapat mengurangi biaya produksi tinggi, sehingga ada profit margin yang dapat dinikmati oleh petani.
Sebenarnya item ketahanan pangan semua jenis yang ditetapkan oleh Pemerintah perlu mendapatkan perhatian serius bukan sebagai wacana dan retorika belaka untuk jualan pencitraan saja.
Mengapa Negara agraris ini masih harus mengiport komoditi pertanian dari luar.
*Penulis adalah Direktur Litbang, Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo)
Mas Miko
Jl Lat Ros Raya No 52 Tebet Utara, Jakarta
miko.corporation@gmail.com
021-8292755
(wwn/wwn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Opini Terbaru
Indeks Opini ยป
-
Jumat, 17/05/2013 08:56 WIB
KBT, Benahilah Sebelum Terlambat
-
Selasa, 14/05/2013 09:36 WIB
Jalan Layang dan Kemacetan
-
Selasa, 07/05/2013 12:42 WIB
Busway: Semestinya Lebih Baik
-
Senin, 06/05/2013 11:23 WIB
Muktamar Khilafah Untuk Indonesia Lebih Baik
-
Kamis, 02/05/2013 16:38 WIB
Sang Kartini
-
Rabu, 22/05/2013 06:02 WIB
Rekam 423 Video Cabul, Pria Singapura Diadili
-
Rabu, 22/05/2013 06:00 WIB
Sejumlah Kecelakaan di Tol Terjadi Pagi Ini
-
Rabu, 22/05/2013 03:07 WIB
Gunakan Cermin Dua Sisi di Toilet Wanita, Klub Malam Ini Digugat
-
Rabu, 22/05/2013 04:18 WIB
Guru Les Culik Mantan Muridnya, Minta Tebusan Rp 50 Juta
-
Rabu, 22/05/2013 04:59 WIB
Wakil Ketua Komisi IX: Freeport Lakukan Pengabaian Keselamatan Pekerja
-
Rabu, 22/05/2013 02:43 WIB
Diduga Bom Ikan Meledak, Dua Nelayan Hilang di Laut Kepri
-
Selasa, 21/05/2013 12:52 WIB
Ini Dia Darin Mumtazah, Pelajar yang Dekat dengan Luthfi Hasan
-
Rabu, 22/05/2013 00:53 WIB
Makan di Pendopo Sipanji Banyumas, Megawati Cerita Kondisi Indonesia
-
358 Komentar
-
238 Komentar
-
229 Komentar
-
211 Komentar
-
210 Komentar
-
210 Komentar
-
174 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
15 Tahun Reformasi
Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,845.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 17:30 WIB
Kata Ibunda ke Tetangga: Biarin Darin Dikawinin, Daripada Dia Hidup Susah
-
Selasa, 21/05/2013 17:27 WIB
Diplomasi Udang Bakar dan Ikan Goreng Jokowi Dengarkan Warga Pluit
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








_5.gif)






Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.
