Senin, 30/07/2012 19:58 WIB
Nelayan Muara Gembong Pantang Makan Daging Paus & Hiu karena Mitos Ini
"Jadi dulu pernah ada cerita, nelayan Muara Gembong bertemu ikan shark whale terdampar. Nelayan tersebut sempat mengambil sebanyak 200 kg. Namun ketika dia mengambil, tidak lama ketika memotong daging tersebut dan dibawa pulang, dibagikan keluarganya untuk dimakan, mereka semua pada mati, termasuk nelayan yang memotong ikan," jelas tokoh nelayan setempat, Zakaria (60).
Hal itu diceritakan Zakaria di Pantai Muara Gembong, Senin (30/7/2012). Sejak saat itu, nelayan dan warga setempat tidak berani mengambil ikan besar yang terdampar.
"Makanya semenjak saat itu, tokoh nelayan, tokoh masyarakat mengkeramatkan ikan itu. Paling cuma buat dilihat saja," kata Zakaria.
Sementara menurut staf Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polisi Air di Pospol Muara Merdeka, Pantai Bahagia, Briptu Effendi, yang pertama kali menemukan bayi paus sperma adalah Ketua RW 2 Desa Pantai Bahagia, Saita. Saita saat itu menemukan paus setelah menempuh perjalanan 15 km.
"Selesai salat subuh mau berangkat mencari ikan pinggir laut. Dalam perjalanan dia menemukan onggokan paus, dia langsung balik lagi tidak jadi berangkat ambil ikan lalu lapor ke SPK. Kondisinya saat itu masih tertelungkup, masih hidup, ekornya sempat bergerak-gerak," kata Effendi.
Siang harinya sekitar Minggu, pukul 11.00 WIB, paus mulai terdampar di Muara Gembong, di mana kedalaman air lautnya sekitar 1,8 meter, sangat dangkal. Saat itu ekor paus masih bergerak-gerak.
"Warga langsung melakukan inisiatif tindakan pengamanan paus itu. Pak RW sendiri (Saita, nelayan yang menemukan, red) memastikan pukul 11.00 malam sudah mati paus itu dengan posisi telentang dan menimbulkan bau menyengat," papar Effendi.
Effendi memastikan dari ciri-ciri luka di ekor dan lubang di punggung, paus yang terdampar adalah paus yang kemarin ditemukan di Pakis Jaya, Karawang. Beratnya sekitar 2 ton dengan panjang 25 meter. Dia juga melihat ada luka sobek di mulut dan siripnya.
"Pas di titik itu, darahnya keluar merah deras," kata dia.
Nah, Senin dini hari, Effendi mendapat kabar bahwa paus tersebut sudah ditarik ke pengeboran minyak lepas pantai Pertamina atas permintaan Kementerian Kehutanan. Alasannya, paus yang sudah mati terseret ke arah tanaman mangrove yang baru ditanam warga.
"Sempat tergeser ditarik Kemenhut karena melihat air timur laut yang menggeser badan paus sejauh 30 meter dari bibir pantai kira-kira 100 meter dari mangrove," jelasnya.
Effendi mendapatkan informasi dari nelayan lokal, bahwa kejadian paus terdampar ini bukan sekali ini saja, tapi berkali-kali. Seperti ikan shark whale sudah 2 kali terdampar, terakhir 5 bulan lalu.
"Atas kesepakatan masyarakat dan tokoh agama dan nelayan, ikan tersebut dikubur di sini," kata Effendi.
Kemudian, nelayan di sini mengaku sering melihat paus sperma, yang melintas dari Pulau Seribu melewati Pulau Damar ke timur laut menuju laut lepas. Namun paus sperma yang dijumpai kali ini jauh lebih besar, biasanya 1-2 meter.
"Nelayan terakhir melihat ada 5-7 ekor yang melintas sekitar bulan lalu, nelayannya kabur," tutur Effendi.
(nwk/vta)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Puluhan Ribu Warga Palembang Saksikan Jembatan 'Ampera Berwarna'
599 share this. -
Ingin Lomba Paduan Suara di Hongkong, Mahasiswi UNS Minta Dibantu Jokowi
496 share this. -
Turbulensi Pesawat Emirates, Penumpang Dipulangkan ke Jakarta Sore Tadi
475 share this. -
Cerita Masa Lalu, Ahok: Saya Masuk Politik Didukung Ustad
446 share this. -
'Diplomasi' Makanan Bugis Ala Jusuf Kalla
443 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 19/05/2013 03:01 WIB
Terhalang Aturan Jadi Caleg, Eks Napi Politik Minta Penjelasan KPU
-
Minggu, 19/05/2013 02:40 WIB
Gita Wirjawan Upayakan Harga Daging Tetap Stabil saat Ramadhan
-
Minggu, 19/05/2013 02:07 WIB
Cerita Masa Lalu, Ahok: Saya Masuk Politik Didukung Ustad
-
Minggu, 19/05/2013 01:57 WIB
Turbulensi Pesawat Emirates, Penumpang Dipulangkan ke Jakarta Sore Tadi
-
Minggu, 19/05/2013 01:24 WIB
Gita Wirjawan: Ada Parpol Sudah 'Ngomong-ngomong' Pencapresan Saya
-
Minggu, 19/05/2013 04:19 WIB
Ini Instruksi SBY Terkait Masalah Gunung Padang dan Lumpur Lapindo
-
Minggu, 19/05/2013 02:07 WIB
Cerita Masa Lalu, Ahok: Saya Masuk Politik Didukung Ustad
-
Minggu, 19/05/2013 01:57 WIB
Turbulensi Pesawat Emirates, Penumpang Dipulangkan ke Jakarta Sore Tadi
-
Minggu, 19/05/2013 01:03 WIB
Gita Wirjawan Dukung Jokowi Normalisasi Waduk Pluit
-
Minggu, 19/05/2013 00:37 WIB
Puluhan Ribu Warga Palembang Saksikan Jembatan 'Ampera Berwarna'
-
Sabtu, 18/05/2013 06:54 WIB
3 Rekaman Sadapan KPK yang Bisa Bikin Luthfi Hasan 'Skak Mat'
-
Sabtu, 18/05/2013 12:05 WIB
Ditolak Bercinta, Gadis 19 Tahun Gigit Penis Kekasihnya
-
Sabtu, 18/05/2013 16:45 WIB
Kelelahan, Bupati Tegal Meninggal Dunia
-
433 Komentar
-
228 Komentar
-
227 Komentar
-
215 Komentar
-
211 Komentar
-
205 Komentar
-
200 Komentar
-
174 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,834.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Sabtu, 18/05/2013 21:44 WIB
Wisata Malam Hari Bersama Jokowi di Solo
-
Sabtu, 18/05/2013 21:22 WIB
Bob Hasan Bela Aiptu LS, Tak Ada Illegal Logging
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

.gif)





_5.gif)



Namanya Markamah. Semangat perempuan berusia 46 tahun ini tak pernah padam untuk menyalakan lilin pendidikan di tempat-tempat marjinal. Mulai dari memberantas buta huruf di Marunda, mengajar anak-anak PSK di Jakarta Barat hingga kini menjalankan roda sekolah semi permanen yang dikepung pabrik.
Prinsip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, “Pertahanan Terbaik adalah Menyerang” nampaknya sedang diadopsi oleh PKS saat terjepit berhadapan dengan kasus hukum di KPK. Upaya perlawananoleh PKS yaitu melaporkan sejumlah penyidik dan jubir KPK kepada Kepolisian.
