detikcom
Minggu, 29/07/2012 02:01 WIB

Hadiri Pemakaman, Ayah Korban Bentrok Sumsel Tempuh 600 Km Naik Motor

Taufik Wijaya - detikNews
Jakarta - Guna melihat jasad putra kelimanya, Angga Prima (12), yang tewas dalam bentrokan antara Brimob Polda Sumsel dengan warga di Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Sumsel, Darmawan (45) melakukan perjalanan sekitar 600 kilometer menggunakan sepeda motor.

Namun, saat sampai ke rumahnya, sebuah rumah panggung sederhana di Desa Tanjung Pinang 2, Kecamatan Tanjungbatu, Ogan Ilir, Sumsel, sekitar pukul 08.00, Darmawan tidak meratap. Termasuk saat dia melihat jasad anaknya yang terbaring di ruang tamu. Melihat itu, justru istrinya Yuhana, dan anak-anaknya yang menangis.

Tak lama kemudian Darmawan berbincang dengan sejumlah kerabatnya soal proses penguburan. “Ya, bagusnya dikebumikan sebelum dzuhur,” katanya.

Darmawan sehari-harinya berprofesi sebagai pandai besi. Saat peristiwa nahas menimpa anaknya, dia tengah berada di Rimbo Bujang, Kabupaten Muara Tebo, Provinsi Jambi.

Di Muara Tebo bersama putra sulungnya Erwin, membuka usaha pandai besi sejak tiga tahun lalu.

“Kami berangkat kemarin sore, ya, perjalanan sekitar 13 jam. Kami
hanya sesekali berhenti, tapi kami gelisah ingin segera sampai,” kata
Erwin, kakak Angga yang bergantian dengan Darmawan membawa sepeda
motor Suzuki Smash.

Keluarga Darmawan merupakan keluarga sederhana. Mereka tidak memiliki
kebun. Sehingga guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Darmawan
mengandalkan keahlian sebagai pandai besi, yakni pembuat parang,
pahat, dan dodos untuk sawit. Sementara istrinya, Yuhana, bekerja
sebagai buruh penenun kain songket.

(tw/fjp)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel