Sabtu, 28/07/2012 10:11 WIB
Pria Malaysia Paksa Putrinya Minum Minuman Beracun Demi Gugurkan Kandungan
Ilustrasi
Hal ini dilakukan pria tersebut karena dia tidak merestui pernikahan putrinya dengan suaminya. Pria yang berusia 50-an tahun ini bahkan menyerang anak dan menantunya di rumah mereka di Pantai Dalam, Bangsar, Malaysia.
Insiden yang terjadi pada Kamis (26/7) waktu setempat ini, berawal ketika pria yang tidak disebutkan namanya ini mendatangi putrinya untuk memintanya mengakhiri pernikahannya dengan suaminya yang baru berlangsung selama beberapa bulan. Penyebabnya, pria ini benar-benar tidak menyukai menantunya.
"Pelaku meminta putrinya untuk mengakhiri pernikahannya. Namun ketika putrinya yang berusia 20 tahun tersebut memberitahunya bahwa dia sedang hamil, pelaku langsung hilang kesabaran," ujar seorang polisi setempat seperti dilansir oleh Asia One, Sabtu (28/7/2012).
Pelaku kemudian membuat minuman mematikan, yang terdiri atas campuran soda dengan obat penghilang rasa sakit, dan memaksa putrinya untuk meminumnya. Namun sang putri menolaknya dan mendorong ayahnya.
Pelaku semakin terbawa emosi dan terjadinya pergulatan di antara ayah dan anak ini. Pelaku bahkan mendorong putrinya hingga terjatuh dan kemudian pergi meninggalkan rumah putrinya.
Gadis muda ini langsung memeriksakan diri ke klinik terdekat usai insiden tersebut. Untunglah, kondisi kandungannya dinyatakan stabil oleh dokter. Kemudian, dia bersama suaminya melaporkan perbuatan sang ayah ke polisi setempat. Kasus ini masih dalam penanganan kepolisian setempat.
(nvc/fdn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Polri Tugasnya untuk Kemanusiaan, Bukan Berbisnis!
812 share this. -
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
640 share this. -
Duh! Gadis 16 Tahun di Australia Diperkosa Bergiliran oleh 3 Pria
575 share this. -
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
527 share this. -
Samad: Bila Diminta Polri, KPK Akan Beri Bantuan Usut Aiptu Labora
429 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Senin, 20/05/2013 18:32 WIB
Chili Diguncang Gempa 6,8 SR
-
Senin, 20/05/2013 18:20 WIB
Rentetan Ledakan Bom Tewaskan 15 Orang di Irak
-
Senin, 20/05/2013 18:12 WIB
Baku Tembak Polisi Vs Pemberontak Maois di India, 8 Warga Desa Tewas
-
Senin, 20/05/2013 17:27 WIB
Korut Kembali Luncurkan Rudal Keenam dalam 3 Hari
-
Senin, 20/05/2013 17:08 WIB
Dagangannya Disita Polisi, Pedagang di Arab Saudi Tewas Bakar Diri
-
Senin, 20/05/2013 21:34 WIB
Pelaku yang Diduga Potong Alat Kelamin Abdul Muhyi Seorang Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 21:23 WIB
Polisi Tangkap Pelaku yang Diduga Potong Alat Kelamin Abdul Muhyi
-
Senin, 20/05/2013 22:31 WIB
Otoritas Bandara Selidiki Malaysia Airlines yang Hampir Salah Mendarat
-
Senin, 20/05/2013 22:07 WIB
Selisih 23 Suara, Romi-Harno Menangkan Kursi Wali/Wawali Kota Palembang
-
Senin, 20/05/2013 20:27 WIB
Pesawat Malaysia Airlines Hampir Salah Mendarat di Bandara Kuala Namu
-
Senin, 20/05/2013 21:09 WIB
Warga Klender Minta Jokowi Selesaikan Sengketa Tanah di Gusti Ngurah Rai
-
Senin, 20/05/2013 22:54 WIB
Kurikulum 2013 Diprioritaskan untuk Sekolah Eks RSBI & Akreditasi A
-
Senin, 20/05/2013 20:59 WIB
Dirjen Pajak Minta KPK Usut Pengakuan Tersangka Suap Eko Darmayanto
-
352 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
210 Komentar
-
206 Komentar
-
204 Komentar
-
198 Komentar
-
174 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,837.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 17:12 WIB
Johan Budi: KPK Belum Peroleh Data Aliran Dana Fathanah ke PKS
-
Senin, 20/05/2013 17:00 WIB
Dituding Singkap Rok Siswi SD, FS Mengaku Bantu Bukakan Sepatu
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


.gif)





_5.gif)





Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

