detikcom
Rabu, 25/07/2012 13:55 WIB

Kukuh Ribudiyanto: Badai Vicente Jauh, Tak Berdampak Langsung ke Indonesia

Nurvita Indarini - detikNews
Jakarta - Banjir bandang di Padang, Sumatera Barat, semalam diduga karena hujan deras yang dipicu keberadaan badai Vicente di Laut China Selatan. Badai ini tidak akan 'memporakporandakan' Indonesia karena keberadaannya yang jauh. Hanya saja ada dampak tidak langsung yang harus diwaspadai.

"Itu jauh sekali, sehingga Indonesia hanya terkena dampak tidak langsung. Dampak langsungnya ya yang di Hong Kong itu. Dampak tidak langsung itu terjadi saat ada pertemuan angin yang mengarah ke siklon dan menggerakkan awan hujan sehingga menyebabkan hujan yang cukup tinggi," kata Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto.

Berikut ini wawancara detikcom dengan Kukuh, Rabu (25/7/2012):

Badai Vicente memicu hujan deras yang berimbas banjir bandang di Padang. Sangat mempengaruhi cuaca di Indonesia?

Itu jauh sekali, sehingga Indonesia hanya terkena dampak tidak langsung. Dampak langsungnya ya yang di Hong Kong itu. Dampak tidak langsung itu terjadi saat ada pertemuan angin yang mengarah ke siklon dan menggerakkan awan hujan sehingga menyebabkan hujan yang cukup tinggi. Itulah yang terjadi di Padang.

Semalam di Padang memang hujannya cukup tinggi. Kami dapat laporan dari dekat tempat kejadian, sejak sore sudah terjadi gerimis. Kemudian pukul 18.00 WIB terjadi hujan sedang hingga lebat sampai dengan pukul 21.00 WIB. Selama itu hujan yang turun 173 mm. Anginya juga kencang 32 knot. Hujannya bersifat lokal,tidak luas. Berdasarkan citra satelit, areanya tidak seluruh Padang, hanya segaris kecil.

Sampai kapan pengaruhnya?

Vicente itu sudah habis semalam, karena sudah masuk daratan. Akibat siklon tropis itu membuat Indonesia ada yang jadi kering atau jadi hujan lebat seperti Padang semalam. Sebelum ada siklon itu, di wilayah Jawa ada hujan lebat, seperti di Malang. Karena suhu laut cukup hangat maka terbentuk awan hujan. Begitu ada siklon, awan hujan ketarik ke utara sehingga Jawa kering kembali. Sedangkan beberapa daerah ekutor dan utara ekuator ada hujan yang signifikan.

Adanya siklon ini menjadikan anomali cuaca di Indonesia?

Kalau anomali yang dimaksud harusnya musim kemarau menjadi musim hujan, tidak juga. Karena di wilayah utara ekuator saat ini memang masih terjadi hujan. Untuk diketahui ada 3 tipe musim di Indonesia. Ada tipe ekuatorial seperti di Padang dan di Medan. Cirinya ada dua puncak musim hujan bulanan dalam setahun, meski hujannya sifatnya lokal.

Tipe kedua adalah monsun yang bisa ditemui Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Di tipe ini, saat Mei sampai Agustus terjadi kemarau. Ada perbedaan jelas periode mudim hujan dan musim kemarau dalam setahun, di mana hanya terjadi sekali maksimum curah hujan bulanan dalam setahun. Tipe monsun dipengaruhi angin laut dalam skala yang sangat luas.

Ketiga, tipe lokal merupakan kebalikan dari monsun di Jawa yang kering, maka di wilayah ini jadi puncak musim hujan. Cirinya adalah besarnya pengaruh kondisi lingkungan fisis setempat. Di tipe ini hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam waktu satu tahun. Sedangkan beberapa bulan kering bertepatan dengan datangnya angin muson barat. Wilayahnya antara lain Ternate, Maluku, Kepala Burung.

Banjir bandang di Padang apakah tak terprediksi sehingga warga sampai ada yang sempat menghilang karena hanyut?

Kalau di BMKG mereka sudah buat warning pada pukul 17.00 WIB. Sudah disampaikan peringatan dini hujan lebat. Hal itu telah diinfokan ke pemda, BPBD, radio RRI dan radio bancana. Sudah disampaikan ada peringatan dini.

Meski Vicente sudah merapat ke daratan, potensi hujan lebat di sejumlah daerah masih tinggi?

Pantauan kita, paling tidak beberapa daerah di Aceh timur ada potensi tinggi hujan. Juga di Sumut bagian timur, Riau utara timur, Kalbar bagian utara dekat dengan perbatasan Malaysia, Kaltim bagian utara dan timur. Juga Sulawesi tengah dan barat, Gorontalo, Sulut masih berpotensi hujan lebat.

Bagaimana dengan Pulau Jawa?

Jawa cukup kering untuk beberapa hari ke depan. Yang puncak hujan itu di Ambon, Maluku Utara, Ternate, Kepala Burung.

Cuaca di Jakarta saat ini?

Masih normal. Suhu udara 32 derajat Celcius di siang hari masih normal.


Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(vit/nrl)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Wawancara Terbaru Indeks Wawancara ยป
  • Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
    Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
    Gb Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%