Detik.com News
Detik.com
Rabu, 25/07/2012 12:56 WIB

SBY Jadi Imam Salat Zuhur di Kejagung

Pandu Triyuda - detikNews
 SBY Jadi Imam Salat Zuhur di Kejagung
Jakarta - Presiden SBY melakukan safari Ramadan dengan menggelar rapat kabinet terbatas di Kejagung. Di sela-sela acara, azan zuhur berkumandang. SBY lantas mendirikan salat dan bertindak sebagai imam.

SBY menjadi imam salat zuhur di Masjid Baitul Adli Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin No 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (25/7/2012).

SBY berangkat ke masjid dari gedung utama Kejagung dengan mobil golf. SBY menumpang di mobil pertama bersama Wapres Boediono. Sementara ajudan keduanya berjalan kaki beriringan dengan mobil tersebut.

Di barisan kedua, mobil golf ditumpangi Kapolri Jenderal Pol Timor Pradopo dan Jaksa Agung Basrief Arief. Sementara menteri-menteri berjalan kaki dari gedung utama Kejagung menuju mesjid.

Setelah sampai di masjid, SBY yang mengenakan kemeja biru lengan panjang langsung mengambil wudhu dan memimpin salat. Boediono, Kapolri dan Jaksa Agung serta menteri-menteri mengikuti salat berjamaah tersebut.

Saat SBY dan para pejabat salat, masjid disterilkan. Wartawan hanya boleh menunggu di luar masjid. Setelah selesai salat, SBY kembali memimpin rapat dengan menumpang mobil golf dari masjid ke ruang utama Kejagung, tempat rapat berlangsung.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(nik/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
99%
Kontra
1%