Pembantu Paus jalani tahanan rumah
Paolo Gabriele yang diduga membocorkan dokumen rahasia Vatikan mengahadapi ancaman hukuman penjara yang lama.
Pembantu Paus Benediktus XVI yang sempat ditahan polisi akhirnya dilepaskan dan dialihkan menjadi tahanan rumah.
Vatikan mengatakan Paolo Gabriele akan berada di dalam tahanan rumah sambil menunggu keputusan persidangan apakah dia akan menjalani proses hukum akibat membocorkan surat-surat rahasia milik pemerintah negara itu kepada media.
Gabriele sebelumnya pada Mei lalu dikenai sangkaan telah membocorkan surat rahasia pemerintah Vatikan setelah sejumlah surat yang mengungkap tuduhan korupsi dan konflik internal yang terjadi di lingkungan Tahta Suci sampai ke publik.
Pengacara Gabriele, Carlo Fusco mengatakan kliennya melakukan aksi seorang diri dan menurutnya itu dilakukan karena kecintaannya kepada Paus.
Dokumen Vatikan yang bocor ini kemudian dikenal dengan skandal Vatileaks dan kemudian diterbitkan media Italia dalam sejumlah laporan yang menjelaskan soal skandal suap, nepotisme dan kolusi yang terjadi di Tahta suci.
Media Italia melaporkan pada Mei lalu sejumlah dokumen rahasia tentang Vatikan ditemukan di apartemen Gabriele yang ditinggalinya bersama istri dan ketiga anaknya.
Aksi sendiri
"Jelas tidak ada jaringan khusus, baik dari dalam maupun luar Vatikan yang melibatkan Paolo. Motivasinya dalam aksi ini jelas datang dari dirinya sendiri," kata Fusco seperti dikutip dari AFP."Dia ingin Gereja bisa dapat lebih hidup lagi. Dia punya ide untuk membantu mewujudkan hal itu."
Hakim Vatikan, Piero Antonio Bonnet telah diinstruksikan untuk memeriksa bukti yang ada dalam kasus ini dan akan memutuskan apakah ada bukti yang cukup sehingga bisa dimajukan ke dalam proses persidangan.
Juru Bicara Vatikan, Frederico Lombardi mengatakan keputusan tentang hal itu akan keluar pada awal Agustus mendatang.
Media Italia melaporkan jika Gabriele terbukti bersalah dia bisa menghadapi ancaman hukuman selama 30 tahun karena memiliki dokumen kepala negara secara ilegal.
Dia kemungkinan nantinya akan menjalani hukuman di penjara Italia karena dasar perjanjian yang telah dilakukan antara Italia dan Vatikan.
(bbc/bbc)
-
Senin, 20/05/2013 16:05 WIB
PM Li Keqiang berkunjung ke India
-
Senin, 20/05/2013 13:37 WIB
Pendidikan Bahaya Pornografi Sejak Dini
-
Senin, 20/05/2013 12:56 WIB
Rod Steward nomor satu di Inggris
-
Senin, 20/05/2013 12:09 WIB
Korut diminta jamin pembebasan kapal Cina
-
Senin, 20/05/2013 11:41 WIB
Sinar matahari ringankan penyakit asma
-
Selasa, 21/05/2013 04:40 WIB
Anggota Komisi X: Jangan Ganti Menteri Ganti Kurikulum
-
Selasa, 21/05/2013 02:36 WIB
Curi Infaq di Masjid Istiqlal Pekanbaru, Andi Babak Belur Dihajar Warga
-
Selasa, 21/05/2013 04:35 WIB
Dalam 1 Hari, Rentetan Bom Mobil Tewaskan 70 Muslim Syiah di Irak
-
Selasa, 21/05/2013 03:21 WIB
Kurangi Isi Tabung Gas, 2 Pengecer di Lampung Ditangkap Polisi
-
Selasa, 21/05/2013 03:05 WIB
Suryadharma: Caleg PPP Memang Tidak Punya Uang, Tapi Harus Tetap Solid
-
Selasa, 21/05/2013 01:38 WIB
Kunjungi Longsor PT Freeport, Rombongan DPR Masuk Sampai Terowongan
-
Selasa, 21/05/2013 02:11 WIB
Kemendikbud Ajukan Anggaran Rp 829 miliar untuk Kurikulum 2013
-
Senin, 20/05/2013 14:05 WIB
4 Sentilan Pedas Sefti terhadap Selingkuhan Fathanah
-
354 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
210 Komentar
-
206 Komentar
-
203 Komentar
-
174 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
- Rp 2,837.000
- Rp .000
-
Senin, 20/05/2013 18:44 WIB
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 18:17 WIB
JK Sayangkan Au San Suu Kyi yang Pasif Soal Kekerasan di Rohingya
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks

.gif)
Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

