detikcom
Minggu, 22/07/2012 09:05 WIB

Tiga Kemungkinan Alasan Mengapa SBY Warning Menteri Dari Parpol

Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan para menteri di kabinetnya untuk fokus bekerja daripada sibuk mengurus partai politiknya. Pidato SBY dalam rapat kabinet tersebut memunculkan tiga dugaan dalam menguak alasan SBY menyentil para pembantunya.

"Saya melihat ada sesuatu yang mau disampaikan oleh presiden kepada para menterinya. Menurut saya ada tiga kemungkinan," kata Ketua DPP PAN Bidang Komunikasi Politik, Bima Arya, pada detikcom, Minggu (21/7/2012).

Bima menduga kinerja menteri yang kurang menonjol menjadi alasan presiden dalam pidatonya tersebut. "Pertama, persoalan serius dalam kinerja menteri. Saya percaya presiden memiliki data yang lengkap soal kinerja menteri. Kemungkinan juga ada kesenjangan yang besar antara target kerja dengan pencapaian," ungkap Bima.

Selain soal kinerja, Bima menduga loyalitas para menteri turut menjadi motif pidato yang diucapkan presiden pada hari kamis lalu (19/7). Bima juga menilai rapat kabinet yang diadakan terbuka tersebut memiliki alasan.

"Juga soal loyalitas, pak SBY tidak suka loyalitas ganda. Saya kira, kedua ini ada indikasi ada yang suka melakukan 'akrobat' politik dibanding kerja. Kenapa disampaikan ke publik? supaya publik bisa memahami adanya persoalan," papar Bima.

Bima menduga selain kedua hal tersebut, ada suatu situasi dan kondisi yang ingin dibangun oleh presiden. "Jangan-jangan hal itu prakondisi yang ingin diciptakan presiden, karena ini ada beberapa menteri yang terkait kasus. Mungkin presiden mengantisipasi eskalasi peningkatan status atau hal lainnya," tutup Bima.

SBY sebelumnya menyerukan bila ada menteri yang merupakan kader parpol merasa tidak sanggup membagi energinya dengan tugas pemerintahan, Presiden SBY mempersilakan untuk mengundurkan diri secara baik-baik dari KIB II.

"Bagi saudara yang memang tidak bisa membagi waktu dan harus menyukseskan tugas politik parpolnya, saya persilahkan baik-baik untuk mengundurkan diri," ujar SBY dalam pengantar pembukaan rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (19/7/2012).


seorang Bocah SD diadu Berkelahi Oleh temannya Hingga Muntah darah. Saksikan Informasi Selengkapnya di "Reportase Pagi", pukul 04.26 - 05.23 WIB, hanya di TRANS TV

(vid/mpr)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
    Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
    Gb Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%