detikcom
Minggu, 22/07/2012 07:12 WIB

PAN: Politisi 'Kutu Loncat' Mirip Bajak-Membajak di Dunia Profesional

Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Sebanyak 37 anggota DPR dari berbagai parpol berkomitmen bergabung dengan Nasdem pada Pemilu 2014 mendatang. Hal ini dinilai mirip dengan bajak-membajak karyawan yang biasa dilakukan dalam dunia profesional.

"Istilah bajak-membajak ini memang terkenal dalam dunia profesional yang tidak terlalu menempatkan loyalitas. Partaikan nggak bisa seperti itu," kata Ketua DPP PAN Bidang Komunikasi Politik, Bima Arya, pada detikcom (21/7/2012).

Menurut Bima, partai bukanlah perusahaan yang biasa mencari 'head hunter' dengan cara membajak. "Kalau terbujuk, memangnya partai ini perusahaan? Dalam partai harus dibangun loyalitas. Kalau saya, sekali matahari selamanya matahari," ungkap Bima.

Bima menduga anggota dewan atau kader partai yang tergoda memiliki masalah personal dengan partai lama mereka. Ia menyarankan perekrutan kader oleh sebuah partai harus melalui kaderisasi internal kepada masyarakat yang dinilai sangat potensial menyampaikan aspirasi masyarakat.

"Secara internal, bagi yang tergoda tentu ada persoalan yang dihadapi, secara eksternal tidak etislah membajak seperti itu. Partai harusnya melakukan rekrutmen yang difokuskan pada segmen baru dan calon kader yang potensial," jelas Bima.

Motif uang turut menjadi salah satu alasan banyaknya politikus 'kutu loncat'. Bima menyayangkan politikus yang berpindah-pindah bukan karena kesamaan ideologi atau idealisme.

"Bisa jadi godaan seperti itu (motif uang). Kalau saya merasa PAN ini ideologinya cocok dengan saya. Jadi, Saya kalau pindah partai kayak pindah agama," papar Bima.

Akibat fenomena politikus 'kutu loncat' tersebut, muncul ide perlunya peraturan atau regulasi dalam mengendalikan hal tersebut. Namun, Bima Arya menilai hal tersebut tidak diperlukan karena berkaitan dengan hak politik individu.

"Nggak perlu, ini hak politik masing-masing, nggak boleh dihalangi karena publik nanti bisa menilai. Semestinya kan partai bisa melakukan kaderisasi dan mencetak kader yang loyal," tutup Bima.


Ikiti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(vid/mpr)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%