Rabu, 18/07/2012 12:12 WIB

Pelajar Sawer Gedung KPK, Busyro: Semoga DPR Mencabut Tanda Bintang

Fajar Pratama - detikNews
Rombongan IPM Jember (Foto: Fajar/detikcom)
Jakarta - Sembilan pelajar dari organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Jember, Jawa Timur, bersepeda selama 9 hari demi mengantar sumbangan koin untuk gedung baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, yang menyambut rombongan tersebut berharap DPR dapat tergugah dan segera mencabut tanda bintang yang menghalangi pencairan dana untuk gedung baru KPK.

Pantauan detikcom di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningsn, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2012), Busyro menyambut 9 pelajar IPM yang tiba pukul 10.45 WIB. Rombongan tersebut diajak Busyro ke ruangan yang biasa digunakan untuk konferensi pers. Dia mengaku terharu dengan semangat sembilan pelajar dari organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan itu.

"Saya mewakili pimpinan KPK merasa sangat terharu. Ketika berita yang kami terima kemarin bahwa ada 9 orang pelajar dari Jember menggunakan sepeda ke KPK. Apalagi, melihat wajah-wajah ini yang kuyu-kuyu. Lelah secara lahir, tapi saya yakin tidak secara batin," kata Busyro.

Menurut Busyro, semangat para pelajar asal Jember tersebut harus menjadi simbol semangat pemberantasan antikorupsi. Dia berharap anggota Komisi III DPR segera mencabut tanda bintang yang menghalangi pencairan dana untuk gedung baru KPK.

"Perjuangan adik-adik sekalian menjadi simbol agar rekan-rekan kami di Dewan mempertimbangkan untuk mencabut tanda bintang," ujarnya.

Sebelumnya sembilan orang dari organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Jember, Jawa Timur, melakukan gerakan sosial yang dinamakan 'Gerakan Nilai Tanpa Angka'. Mereka bersepeda selama 9 hari demi mengantar sumbangan koin untuk gedung baru KPK.

Salah seorang dari rombongan itu membawa botol air mineral 1,5 liter yang berisi koin sumbangan untuk gedung KPK. Sesampainya di KPK, mereka langsung menyerahkan botol mineral berisi koin ke posko. Koin yang menjadi isi botol itu merupakan sumbangan masyarakat yang mereka kumpulkan selama di perjalanan.

"Kami membawa botol ini. Botol berisi koin ini kami dapatkan dari mengumpulkan uang dari publik selama di jalan," tutur Agus. Jumlah uang dalam botol itu dihitung saat akan diserahkan ke posko, nilainya Rp 206.800.

(trq/nwk)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    45%
    Kontra
    55%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel