detikcom
Minggu, 15/07/2012 17:30 WIB

Gubernur Sulut Diganjar Gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Malang

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang, menerima anugerah Doktor Honoris Causa di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Gelar tersebut diberikan kalangan akademik karena perannya sebagai pemimpin yang mampu menciptakan iklim kondusif di tengah masyarakat yang majemuk.

"Memimpin masyarakat majemuk dengan berbagai tantangan itu membutuhkan sosok yang berjiwa besar, bersedia berjuang dan berkorban demi kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan kelompok dan golongannya, apalagi untuk kepentingan diri sendiri," ujar Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Imam Suprayogo, dalam keterangan pers yang diterima detikcom, dari Staf Khusus Gubernur Sulut Michael Umbas, Minggu (15/7/2012).

Sarundajang tercatat beberapa kali memimpin dan mengelola masyarakat Maluku yang dirundung konflik saudara dengan latar belakang SARA. Keadaan kondusif, aman dan damai tercipta setelah peraih gelar formal doktor politik dari UGM ini merangkul dan mengayomi semua elemen masyarakat yang berkonflik.

Dalam orasi ilmiah, Sabtu (14/7) kemarin, yang disampaikan Sarundajang di hadapan Prof Dr Frans Magnis Suseno, Wakil Menteri Agama Prof Dr Nasarudin Umar, Rektor UGM Prof Dr Pratikno, mantan Panglima Laskar Jihad Djafar Umar Thalib, dan sejumlah tokoh lintas Agama, dia meminta negara untuk tidak kalah oleh tindak kekerasan yang mengancam kemajemukan bangsa.

"Kegagalan pemimpin dalam merawat dan mengelola kemajemukan atau keberagaman hampir dipastikan akan menjadi malapetaka bagi masyarakat," jelas Sarundajang.

Dia menyinggung pola kepemimpinan yang gagal memahami kearifan lokal. Para pemimpin seringkali kurang menyadari keberadaan sistem nilai dan kearifan lokal ini, sehingga terburu-buru dalam mengambil keputusan yang akhirnya berdampak pada kekecewaan masyarakat.

Sarundajang mencontohkan, penerjunan aparat keamanan di lokasi konflik secara terbutu-buru, ketika masyarakat belum atau bahkan tidak membutuhkannya.

"Oleh karena itu, kepemimpinan yang diperlukan oleh bangsa kita sebenarnya bukanlah semata-mata yang bersifat komando dan instruktif, tetapi kepemimpinan yang bersifat melayani dan mengayomi," kata sahabat kental dari mantan Panglima Laskar Jihad Djafar Umar Thalib ini.



Simak Rangkuman Beragam Peristiwa Penting dan Menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam", pukul 01.00 WIB Hanya di TransTV

(ahy/nal)





Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
    Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
    Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra Index »

Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
Pro
56%
Kontra
44%
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
  • Rp .000
  • Rp .000