detikcom
Jumat, 13/07/2012 09:32 WIB

Hadjrianto : Kekalahan Alex Nono Bukan Lonceng Kematian Golkar

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Foto: detikcom
Jakarta - Kekalahan pasangan cagub usungan Partai Golkar, Alex Noerdin-Nono Sampono, tak dianggap sebagai lonceng kematian bagi partai beringin. Elite Golkar masih optimis bisa bangkit menghadapi Pemilu 2014.

"Kekalahan cagub Alex-Nono bukanlah lonceng kematian bagi Partai Golkar. Pertama, DKI Jakarta memang medan yang berat bagi Partai Golkar. Harus diingat, kursi Partai Golkar di DPRD Jakarta sekarang ini hanyalah 7 kursi. Sejak dulu kala Golkar selalu harus dengan sangat susah payah untuk memenangi Pemilu di DKI. Bahkan pada masa pemerintahan Orde Baru sedang kuat-kuatnya sekalipun, Golkar pernah mengalami kekalahan di DKI," ungkap Ketua DPP Golkar, Hadjrianto Y Tohari, kepada detikcom, Jumat (13/7/2012).

Selain itu, Hadjri menambahkan, Alex-Nono tak hanya diajukan Golkar sendiri. Namun juga melibatkan koalisi dengan PPP dan PDS yang juga punya mesin politik cukup baik di DKI.

"Kedua, fakta bahwa cagub Alex Noerdin dan Nono Sampono tidak hanya diusung oleh Golkar saja, melainkan juga oleh PPP dan PDS. Pertanyaan saya adalah mengapa yang diributkan hanya kekalahan Partai Golkar saja? Sungguh fenomena meributkan kekalahan Golkar ini terus terang saja sangat mengherankan. Mengapa tdk ada yg meributkannya sebagai kekalahan PPP dan PDS? Ini berarti menunjukkan kenyataan bahwa Golkar sebenarnya tetap menjadi partai yang sangat diperhitungkan oleh semua pihak," papar Wakil Ketua MPR RI ini.

Walhasil, menurut Hadjri, kekalahan Alex Noerdin memang kekalahan politik Golkar, tetapi tidak perlu didramatisasi dan dipolitisasi secara berlebihan. Meski jelas hal ini harus dijadikan pelajaran berharga bagi Golkar.

"Kalah menang itu kan hal yg biasa dalam politik. Dan ini, sekali lagi, bukan lonceng kematian bagi Partai Golkar. Yang penting ke depan PG harus mau berbenah. PG harus sungguh-sungguh peka dan mau mendengar suara rakyat. Rakyat lah yang menjadi sumber kemenangan dan sekaligus sumber kekuasaan itu. Maka isyarat-isyarat dari rakyat harus benar-benar diperhatikan dan dicermati," pungkasnya.


Ikiti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(van/edo)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%