QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 02:14 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Rabu, 11/07/2012 17:24 WIB

Menlu AS, Hilary Clinton tiba di Laos

BBCIndonesia.com - detikNews
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hilary Clinton, telah tiba di Laos dalam kunjungan pertama Menlu AS dalam waktu 57 tahun belakangan.

Di ibukota Vientiane, Clinton bertemu dengan Perdana Menteri, Thongsing Thammavong, dan Menteri Lenteri Negeri, Thongloun Sisoulith. Laos merupakan salah satu dari beberapa negara di dunia yang masih dipimpin oleh pemerintah komunis.

Kunjungan ke Laos ini merupakan bagian dari lawatan Clinton ke Asia Tenggara, yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan Amerika Serikat dengan salah satu kawasan yang menikmati pertumbuhan ekonomi.

Para pengamat mengatakan lawatan ke Asia Tenggara ini juga merupakan upaya untuk menyeimbangkan dominasi ekonomi, politik, dan militer Cina di Asia Pasifik.

Salah satu isu yang dibahas Clinton di Vientiane adalah rencana pemerintah Laos untuk membangun bendungan besar di Sungai Mekong, yang dikecam oleh para pegiat lingkungan.

"Amerika Serikat dan Loas juga sepakat untuk meningkatkan dan memfasilitasi operasi untuk mencari tentara Amerika Serikat yang masih hilang pada masa perang Indocina," seperti tertulis dalam pernyataan Clinton usai bertemiu dengan Perdana Menteri Thongsing Thammavong.

Keduanya juga membahas masih tertundanya Laos untuk masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia, WTO.

Pembersihan bom

Masalah lain yang juga dibahas adalah upaya bersama untuk membersihkan bom-bom yang belum meledak yang dijatuhkan Amerika Serikat di Laos pada masa perang Vietnam.

Sepanjang periode 1964 hingga 1973, pesawat-pesawat Amerika Serikat menjatuhkan sekitar dua juta bom di Vietnam dan sekitarnya.

Pemerintah Laos pernah menyebutkan lebih dari 200.000 orang tewas akibat bom yang belum meledak paskaperang.

Sebuah lembaga antiperang yang bermarkas di Washington, Legacies of War -yang dikutip kantor berita AP- memperkirakan baru 1% dari kawasan yang terkontaminasi bom di Laos yang sudah dibersihkan dan mereka meminta bantuan yang lebih besar untuk pembersihan bom.

Hingga saat ini Washington menyediakan dana sebesar US$9 juta untuk pembersihan bom di Laos namun setelah kunjungan Clinton diperkirakan bantuan yang ditawarkan akan meningkat.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat yang terakhir kali berkunjuk ke Laos adalah John Fostre Dulles pada tahun 1955.

(bbc/bbc)

Berita Terbaru Indeks Berita ยป
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%
MustRead close