Rabu, 11/07/2012 16:49 WIB

Bank Sampah, ubah sampah jadi uang

BBCIndonesia.com - detikNews

Sri Lestari

Produser, BBC Indonesia

Bank sampah

Bank sampah Gemah Ripah di Desa Badegan, Kabupaten Bantul, DIY memiliki 400 nasabah.

Pengelolaan sampah di tingkat komunitas melalui Bank Sampah pertama kali dilakukan sejak 2008 lalu di Desa Badegan Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berbeda dengan Bank lain yang berupa bangunan permanen dan dilengkapi dengan pendingin ruangan, Bank Sampah Gemah Ripah di Dusun Badegan Bantul menempati rumah bilik bambu yang berukuran tak lebih dari 12 meter persegi.

Di dalam ruangan, tak ada brankas yang berisi uang tetapi berkarung-karung sampah yang telah dipilah. Sampah plastik, kertas, stryrofoam, kardus dan kemasan botol minuman bekas pakai.

Seorang nasabah Bank Sampah tampak masuk ke membawa satu karung dan plastik berisi sampah untuk disetorkan. Sementara nasabah lain ingin mengambil uang tabungan.

Inisiator Bank Sampah Bambang Suwerda menjelaskan konsep pengelolaan sampah seperti bank ini membuat masyarakat tertarik, apalagi mereka akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi.

Bambang Suwerda

Bambang Suwerda mendirikan bank sampah pada 2008 demi kesehatan lingkungan.

"Konsep bank sampah ini lahir karena kami melihat ada yang menarik dari konsep bank sampah, kami coba untuk kolaborasi dengan perbankan, ada buku rekening," kata Bambang.

"Selain penyelamatan lingkungan ada konsep menabung, kemudian biasanya bayar retribusi per bulannya kalo ini nabungnya sampah kembalinya uang," jelas Bambang.

Pengurus Bank Sampah Freddy Bimo menjelaskan para nasabah menyetor sampah mereka, lalu akan mendapatkan uang sesuai dengan nilai sampah mereka.

"Sampah akan ditimbang dan ditaksir nilainya sesuai harga di pasaran atau pengepul, lalu nilai uang itu yang akan dimasukan ke rekening nasabah," kata Bimo.

Nasabah tidak dapat langsung mengambil uang mereka, tetapi harus menunggu selama tiga bulan.

"Konsepnya menabung, jadi uangnya dimasukan dulu ke tabungan, kalo sudah tiga bulan bisa diambil, selain itu agar nilainya juga lebih besar," kata Bimo.

Jumlah nasabah Bank Sampah Gemah Ripah terus meningkat, dan berasal dari luar Desa Badegan. Sampai Juni 2012, jumlah nasabah mencapai lebih dari 400 orang, dengan dana yang dikelola mencapai Rp. 5 juta.

Perbaikan lingkungan

Sampah

Tanpa ada pemilahan semua sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah.

Konsep bank sampah ini membuat warga memilah sampah rumah tangga mereka. Sementara sampah organik dibuat kompos yang tampak dimiliki oleh sejumlah rumah di Desa Badegan.

Untuk sampah yang memiliki nilai jual atau yang tidak dapat didaur ulang di rumah tangga, disetorkan ke bank sampah.

Jumlah sampah plastik yang diterima Bank Sampah Gemah Ripah mencapai 500- 700 kg per bulannya.

Bambang mengatakan bank sampah ini merupakan sistem pengelolaan dari bagian hulu yaitu rumah tangga dimulai dengan pemilahan sampah.

"Selama ini kan dari hilir yaitu sistem angkut buang langsung ke TPA jadi hanya memindahkan masalah saja, persoalan sampah di rumah mungkin selesai, tetapi muncul masalah baru di TPA, dengan bank sampah kita menyelamatkan sampah plastik, kertas, kaleng botol yang selama ini semua masuk ke TPA," kata Bambang.

Bambang menyatakan unsur pendidikan dalam Bank Sampah dengan melibatkan anak-anak untuk menjadi nasabah, sehingga mereka mendapatkan pemahaman untuk mengelola sampah sejak dini.

"Sebagai nasabah bank sampah memang ada manfaatnya pertama untuk kebersihan lingkungan, untuk menambah uang saku untuk kebutuhan rumah tangga," Kata Basori, salah seorang nasabah.

Selain menguntungkan nasabah, bank sampah dapat memperbaiki kondisi kesehatan lingkungan.

"Dulu di sekitar jalan ini banyak sekali sampah, dan jumlah penyakit juga tinggi, tetapi bank sampah membuat masyarakat mengubah pemikiran mereka tentang sampah, dan akhirnya memperbaiki lingkungan juga," kata Bambang.

Daur ulang sampah

Bank sampah

Patung Pinokio yang dibuat dari sampah styrofoam dari Bank Sampah Gemah Ripah.

Sebagian di daur ulang menjadi barang kerajinan seperti tas dari bungkus plastik, kertas, dan stryrofoam, atau dijual ke pengepul. Salah satu pengrajin yang mendaur ulang sampah yang diperoleh dari Bank sampah adalah Nursahid.

"Saya memang ada latar belakang seni, jadi mencoba berkreasi dengan stryrofoam, bias dibuat patung dan sejumlah barang lainnya," kata Nursahid pemilik bengkel daur ulang stryrofoam.

Konsep pengelolaan sampah melalui Bank Sampah ini diadopsi oleh sejumlah komunitas masyarakat di berbagai daerah dan juga Kementrian Lingkungan Hidup.

Sampai Akhir Juni 2012 sekitar 782 Bank Sampah sudah berdiri di sejumlah kota di Indonesia, dengan dana bergulir mencapai lebih dari 31 milliar rupiah.

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah KLH, Sudirman mengatakan pemerintah mengadopsi mengadopsi konsep Bank Sampah ini karena yakin dapat digunakan untuk menurunkan jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir TPA.

"Jumlah sampah yang terkelola itu sudah sekitar 2 ton dari 782 Bank Sampah, nilai uang mencapai 31,9 milyar rupiah per bulan, sekarang saya perlihatkan Surabaya, dengan konsep 3R dan bank sampah itu luar biasa, bisa menurunkan sampah sampah 500 ton setahun, atau hampir 30 persen," jelas Sudirman.

Sudirman menyatakan untuk meningkatkan kepedulian pemerintah daerah dalam mengelola sampah, konsep Bank Sampah harus diadopsi oleh Kota/Kabupaten sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan penghargaan lingkungan bagi kota/kab yaitu Adipura.

Kementrian Lingkungan Hidup mengakui pengelolaan sampah masih menjadi persoalan di sejumlah daerah, karena tidak adanya komitmen dari pemda untuk mengatasi sampah.

(bbc/bbc)

  • Senin, 21/07/2014 12:41 WIB
    Wamenhub: Jembatan Comal Bikin Jalur Darat Lebih Kompleks, Ada 3 Alternatif
    Gb Jembatan Comal, Pemalang, Jateng, yang ambles pada Jumat (18/7) malam lalu membuat mudik via jalur darat lebih kompleks. Memang Kementerian PU mengebut pengerjaan jembatan itu. Namun di satu sisi harus menunggu kelayakannya. Ada 3 alternatif jalur mudik menghindari Jembatan Comal.
ProKontra Index »

Polisi akan Razia dan Bubarkan Sahur on The Road

Dari hari ke hari, Sahur on The Road (SOTR) alias sahur keliling yang awalnya niatnya baik, membagi-bagikan sahur ke warga tidak mampu, kini melenceng semakin meresahkan, melakukan vandalisme hingga pembacokan. Terakhir Senin (21/7) dini hari, beberapa korban pembacokan kelompok SOTR berjatuhan. Polda Metro Jaya akan merazia, membubarkan hingga menindak kelompok SOTR yang melakukan tindak pidana. Bila Anda setuju dengan tindakan Polda Metro Jaya, pilih Pro!
Pro
67%
Kontra
33%