detikcom
Selasa, 10/07/2012 00:46 WIB

KPAI: Aksi Kekerasan di Masa Orientasi Siswa Masih Tinggi

Moksa Hutasoit - detikNews
Foto: detikcom
Jakarta - Sebentar lagi akan dimulai masa orientasi siswa baru atau dikenal dengan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPDB). Masa itu diharapkan bukan sebagai ajang eksploitasi dan kekerasan terhadap siswa, baik fisik maupun psikis.

"Pekan orientasi bagi peserta didik baru harus diarahkan untuk menyiapkan proses pembelajaran bagi siswa baru, mulai dari pengenalan lingkungan sekolah, sarana prasarana sekolah dan pemanfaatannya, sistem pembelajaran, guru dan model pembelajarannya, serta daya dukung pembelajaran. Bukan ajang perpeloncoan, kegiatan yang meneror fisik maupun psikis, bukan juga ajang eksploitasi senior pada junior," jelas Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (9/7/2012).

Kepala Sekolah bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan MOS. Ni’am berharap tidak ada lagi teror fisik dan psikis yang nantinya harus dialami oleh siswa/i baru.

"Perlu ada proporsionalitas. Pengkaderan tidak sama dengan terror, eksploitasi, dan kekerasan. Ini harus tegas," kata Ni'am.

Hasil Monitoring dan Evaluasi KPAI terkait dengan praktik kekerasan di sekolah cukup tinggi. Dan umumnya terjadi saat pelaksanaan MOS. Monitoring dan Evaluasi dilakukan KPAI di 9 provinsi, yaitu Sumatera Barat, Lampung, Jambi, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, dengan total responden 1.026 anak.

Penelitian yang dilaksanakan pada April 2012 ini menunjukkan, 66,5 % anak (628 anak) pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh guru, 74,8 % anak (767 anak) pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh teman sekelas, dan sebanyak 56,3 % anak (578) pernah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh teman lain kelas.

"Untuk itu, KPAI mendorong pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk memastikan bahwa pelaksanaan orientasi peserta didik baru harus sesuai dengan tujuan pendidikan, serta bebas dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. Pihak Kemendiknas juga harus memberikan pendampingan dan pengawasan secara ketat," bebernya lagi.

Masyarakat, termasuk wali murid dan komite sekolah juga perlu berpartisipasi untuk mengontrol pelaksanaan masa orientasi peserta didik baru ini berjalan bagus, bermakna, sejalan dengan prinsip pendidikan, sejalan dengan prinsip perlindungan anak, dan terbebas dari kekerasan. Untuk kepentingan itu, KPAI membuka posko pengaduan masyarakat jika ada kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi dalam pelaksanaan proses pendidikan anak, khususnya pada saat MOS.

Ni'am juga meminta jika ada siswa yang mendapat kekerasan fisik segera melapor ke Kantor KPAI, Jl Teuku Umar 10-12, Menteng, Jakarta.


Ikuti topik-topik hangat hari ini di "Reportase Siang", pukul 10.30 WIB, hanya di Trans TV.

(mok/mok)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    60%
    Kontra
    40%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    • Rp .000
    • Rp .000
    MustRead close