detikcom
Jumat, 06/07/2012 14:50 WIB

Identitas Mayat Perempuan Dalam Karung di Pondok Kopi Masih Misterius

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jakarta - Sudah sepuluh hari, identitas mayat perempuan yang ditemukan di dalam karung di Pondok Kopi, Jaktim, belum juga terungkap. Masih misterius. Polsek Duren Sawit yang melakukan penyelidikan pun belum menemukan petunjuk.

Hingga Jumat (6/7/2012), belum ada satu pun kerabat, atau pihak keluarga yang merasa kehilangan orang dengan ciri-ciri khusus seperti tahi lalat di atas bibir.

"Kami masih sulit mengidentifikasi identitas korban, karena sampai saat ini belum ada pihak yang mengaku kehilangan keluarga," ujar Kapolsek Duren Sawit, Kompol Titik. S ketika dihubungi wartawan.

Lebih lanjut Titik, mengatakan saat ini polisi telah menyebar sketsa wajah, korban sampai ke kawasan Bekasi namun belum ada pihak yang mengenali.

"Kita telah menyebarkan foto, tapi sampai saat ini belum ada dari pihak keluarga atau kerabatnya yang mengenalinya," ujar Titik yang biasa disapa bunda ini.

Titik mengatakan, bila identitas mayat tersebut telah diketahui, proses pencarian pelaku baru akan dilakukan.

"Pelaku belum diketahui karena Identitas korban masih misterius," pungkasnya.

Sesosok mayat ditemukan di jalur Banjir Kanal Timur (BKT) Pondok Kopi, Jakarta Timur pada Rabu (27/6). Jasad perempuan ini diperkirakan berusia 23-25 tahun dengan rambut pendek lurus.

Korban juga diketahui memiliki ciri-ciri khusus seperti tai lalat di atas bibir dan di dekat mata bagian bawah sebelah kanan. Hingga saat ini belum ditemukan identitas wanita ini. Jasad korban saat ini sudah dibawa ke RSCM, Salemba, Jakarta Pusat, untuk dilakukan autopsi.



Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(edo/ndr)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
59%
Kontra
41%