detikcom
Jumat, 06/07/2012 10:01 WIB

Komisi V DPR Setuju Kenaikan Tarif KRL, Janji Perketat Pengawasan

Mega Putra Ratya - detikNews
Jakarta - Komisi V DPR yang membidangi perhubungan setuju dengan kenaikan tarif KRL yang disertai peningkatan pelayanan dan fasilitasnya. Komisi V akan mengawasi terus kenaikan tarif dan upaya peningkatan pelayanan yang dilakukan PT KAI.

"Kita akan awasi dan kontrol sejauh mana peningkatan pelayanannya," ujar Wakil Ketua Komisi V Muhidin Mohamad Said kepada detikcom, Jumat (6/7/2012).

Muhidin mengatakan rencana kenaikan tarif KRL oleh PT KAI dapat dipahami. Meski begitu tarif yang naik tersebut harus sebading dengan apa yang didapat oleh penumpang KRL.

"Pelayanan harus ditingkatkan, gerbongnya harus bagus, dan waktunya harus tepat. Naik harga bisa ditolerir jika wajar," ungkap politisi Golkar ini.

Muhidin mencontohkan di negara maju, para masyarakat sangat senang sekali menggunakan KRL sebagai transportasi utama. Hal itu disebabkan fasiltas dan kenyamanan yang didapatkan penumpang dalam menggunakan KRL.

"Di luar negeri para eksekutif naik kereta, pake jas. Karena KRL nya bagus tidak sumpek. Kalau di Indonesia seperti itu nanti orang akan pindah ke kereta," tutupnya.

Berikut tarif KRL Commuter Line yang akan diberlakukan mulai 1 Oktober 2012:

- Rp 9.000,- untuk Relasi Bogor-Jakarta/Jatinegara
- RP 8.000,- untuk Relasi Depok-Bogor
- Rp 8.000,- untuk Relasi Depok-Jakarta/Jatinegara
- Rp 8.500,- untuk Relasi Bekasi-Jakarta/Stasiun Transit
- Rp 8.000,- untuk Relasi Parung Panjang/Serpong-Tanah

Abang/Stasiun Transit

- Rp 7.500,- untuk Relasi Tangerang-Duri/Stasiun Transit


Simak rangkuman aneka berita penting dan menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam" Pukul 0.30 WIB hanya di TransTV

(mpr/mad)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%
MustRead close