detikcom
Jumat, 06/07/2012 09:51 WIB

KPK Tangkap Bupati Buol dengan Taktik Surat Panggilan

Moksa Hutasoit - detikNews
Amran dan Kapolres Tolitoli
Jakarta - KPK berhasil menangkap Bupati Buol, Amran Batalipu, di kediamannya. Bagaimana taktik yang digunakan KPK kali ini, mengingat Amran pernah berhasil lolos berkat bantuan massa pendukungnya?

Informasi yang dihimpun detikcom, Senin (2/7) lalu, KPK sebenarnya sudah mengirimkan surat panggilan kepada Amran. Surat itu dilayangkan melalui instansi resmi.

Isinya, Amran diminta kesediaannya datang ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan di Gedung KPK. Surat itu tidak digubris Amran.

Penyidik kemudian kembali menyurati Amran, Kamis (5/7) kemarin. Namun kali ini sedikit berbeda. Penyidik KPK sendiri yang membawa surat tersebut langsung ke kediamanan Amran.

Namun penyidik tidak sendirian karena ditemani oleh sejumlah petugas keamanan. Mereka tidak mau gagal lagi. Tepat pukul 04.00 WIT, tanpa perlawanan, Amran akhirnya berhasil ditangkap KPK.

Saat coba dikonfirmasi cerita ini kepada juru bicara KPK, Johan Budi, ia mengaku belum tahu. "Saya belum tahu detail, harus saya cek dulu," elak Johan saat dihubungi, Jumat (6/7/2012).

Dalam kasus suap ini, KPK sudah mencegah tujuh orang. Mulai dari Direktur PT Hardaya Inti Plantation, Totok Lestiyo, Sukirno, Kirana Wijaya dari PT Cakra Cipta Murdaya, Siti Hartati Murdaya, Bupati Buol, Amran Batalipu dan 3 orang dari PT Hardaya Inti Plantations lainnya yaitu Benhard, Arim dan Seri Sirithorn.

Ansori sebenarnya berhasil ditangkap KPK pada Selasa (26/6) lalu setelah kedapatan tengah akan memberikan uang dalam jumlah milliaran rupiah. Dalam penggrebekan itu, Amran yang dilindungi para pengawalnya, berhasil meloloskan diri dari sergapan penyidik KPK.

Uang yang diduga untuk menyuap itu, diberikan terkait HGU Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Buol. Hardaya Inti Plantation merupakan perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit.


Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(mok/nrl)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%
MustRead close