Selasa, 03/07/2012 15:18 WIB
Kolom Djoko Suud
Ical & Mistik Semeru
Ical telah mendeklarasikan diri sebagai salah satu calon presiden yang akan ikut berlaga dalam pemilihan presiden tahun 2014 nanti. Itu diucapkannya Minggu (1/7) di Sentul Convention Hall, disaksikan oleh hampir seluruh kader partai ini.
Acara deklarasi itu terus terang hambar. Suguhan pagelaran tidak padu. Ical dalam kondisi tidak fit. Dan pidatonya terlalu lama, hampir satu jam, di tengah 'kader' yang mulai banyak keluar ruangan. Dalam 'pandangan Jawa', acara itu tidak selayak prosesi kelahiran Satrio Pinilih yang akan memimpin negara dan bangsa. Acara itu kehilangan sakralitasnya.
Deklarasi itu memang dipenuhi orang. Tetapi orang yang menyemut itu tidak punya greget. Dalam bahasa Jangka Jayabaya, pasar ilang kumandange (pasar hilang gemanya). Pasar yang kehilangan rohnya. Keramaian yang kehilangan esensi dari keramaiannya.
Maaf, jika tulisan kali ini bernuansa 'mistik' dan Jawa. Itu karena deklarasi itu mengusung idiom keduanya. Cicip Syarif Soetardjo ketua acara ini menyitir ucapan Pak Harto 'ojo dumeh, ojo gumun, ojo kagetan'. Dan Ical memampang ungkapan Ki Hajar Dewantara 'ing ngarso sung tulada, ing madya bangun karsa, tut wuri handayani'. Itu masih diberi atensi lagi dengan ucapan Ical yang akan mendaki Semeru.
Kalimat yang mengalir dalam acara deklarasi itu memang 'sangat Jawa'. Penuh dengan kalimat 'sepuh'. Kata-kata berjiwa, penuh keluhuran dan keteladanan. Kata itu tidak phisical. Sebab kata itu lahir dari proses surealitas. Kerja batin, yang ketika diucapkan, kata-kata itu tidak hanya sebatas kata. Dia berubah mantra. Kata-kata itu banyak berkata, jauh melampaui makna denotatifnya.
Jika kalimat itu dikaitkan dengan 'perebutan' kekuasaan, maka kata-kata itu 'sangat mistis'. Dia penyaring kelahiran Satrio Piningit (calon pemimpin yang belum muncul), Satrio Pinilih (pemimpin yang terpilih), dan Satrio Pinandito (pemimpin yang lengser keprabon madeg pandito). Pemimpin yang habis masa jabatannya beralih menjadi orang soleh yang meninggalkan sifat keduniawian.
Pak Harto mengucap 'ojo dumeh, ojo gumun, ojo kagetan' bukan tanpa sebab. Dia adalah spiritualis. Sebagai orang Jawa, Pak Harto masih benar-benar Jawa. Dia mengasah batin, menjalani lelaku. Olah rasa itu yang melatari diambilnya kalimat di atas. Maknanya, jangan memandang rendah orang rendahan, jangan sombong jika kaya dan berkuasa. Intinya, jangan menista dan menyepelekan orang lain.
Cicip menyitir ucapan Pak Harto untuk personifikasi Ical itu rasanya melenceng jauh. Sebab Ical bukan orang miskin, orang rendahan, orang tidak punya kuasa, dan bukan pula orang yang dinista. Dia sudah punya segala-galanya. Tak pantas jika kalimat itu disandangkan padanya. Bagaimana dengan mendaki Semeru?
Bagi manusia Jawa, di dunia ini tidak hanya dihuni manusia yang berkelompok dan mempunyai negara (kerajaan). Laut juga ada kerajaan dan pemerintahan, termasuk gunung-gunung. Untuk itu dalam pandangan Jawa dikenal Kerajaan Laut yang dipimpin Nyai Roro Kidul, dan Kerajaan Api yang otonom.
Setiap Kerajaan Api (gunung) punya karakteristik sendiri, dan diyakini ada yang berkuasa. Karakter Gunung Merapi sebagai penyapu kuasa, tengara terjadinya suksesi di jagat manusia, dan lavanya acap mengecoh. Itu tidak lepas dari yang memerintah gunung ini, Kiai Sapujagat dan Mbah Petruk.Gunung Lawu selalu tenang, anggun, dan ber-nas. Gunung ini dikuasai Mbah Lawu, sebutan lain dari Raja Brawijaya. Di lereng gunung ini terdapat Alang-alang Kumitir (Candi Cetho), dipercaya sebagai mukswanya raja itu. (Kendati dalam sejarah tercatat sang raja meninggal dunia normal dan diperabukan di Candi Brahu).
Gunung Kelud letusannya selalu membuat kejutan, dipercaya sebagai pintu masuk datangnya Ratu Adil. Gunung ini dijaga Adipati Tunggul Wulung. Mitos ini nampaknya merujuk pada Raja Jayabaya yang dianggap mokswa.
Sedang Gunung Semeru yang akan 'didaki' Ical, dalam keyakinan Jawa, gunung ini tempat manjingnya Semar. Menyatunya (mokswa) Semar. Sosok laki-laki pendek, gemuk, dan berkuncung itu dianggap mewakili jatidiri manusia Jawa.
Laki-laki yang tidak pernah tercela ini sangat sakti. Dia mengalahkan para dewa. Lahir dari satu telur. Bathara Guru menjadi raja para dewa, Togog mengabdi di Kurawa untuk menyebarkan keburukan. Dan Semar di Pandawa menjaga kebaikan.
Dalam pewayangan, profesinya sebagai batur (embat-embate pitutur), penasihat Pandawa. Dia tidak punya keinginan untuk berkuasa, apalagi menjadi raja. Keluhuran budi yang diutamakan. Memanusiakan manusia yang menjadi prioritas. Dan selalu mengingatkan yang salah jalur untuk kembali ke jalan yang benar.
Jika Ical akan mendaki Semeru, rasanya kok salah jalan. Sebab Semeru bukan untuk berkuasa. Filosofi gunung Semeru adalah tempat orang mendekatkan diri pada Tuhannya. Melakukan introspeksi diri menuju taubatan nasuha.
Terus kalau sudah banyak yang salah begini, harus bagaimanakah Ical? Karena sudah terlanjur bicara mistik, maka solusi mistik dalam kepercayaan Jawa, deklarasi itu harus diulang. Dicari hari baik untuk itu, prosesi sakral dilakukan. Dan itu layak sebagai penyambut datangnya seorang pemimpin baru. Jika tidak, pakem Jawa menggaris tegas, Ical gagal menjadi presiden. Benarkah begitu?
Namanya saja kepercayaan. Yang percaya akan bilang 'ya', yang tidak percaya akan bilang 'tidak'. Agar fair, maka kita lihat sama-sama buktinya, jika saatnya telah tiba, tahun 2014 mendatang.
*) Djoko Suud Sukahar adalah pemerhati sosial budaya. Penulis tinggal di Jakarta.
Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV
(vit/vit)
Baca Juga
Twitter Recommendation
-
Singapura 'Dikepung' Asap dari Indonesia, Menhut: Kita Terus Berusaha!
479 share this. -
Gantikan Bajaj Butut, Pemprov DKI Siapkan Bajaj Listrik Swedia
301 share this. -
PNS di Ciamis Diciduk Polisi Saat Hisap Ganja
300 share this. -
Langkah Jokowi Batasi Jam Kelab Malam Diapresiasi KPAI
266 share this. -
Tahun Depan PRJ Lebih Baik Diadakan di 5 Kota Madya DKI Jakarta
245 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru
Indeks Kolom ยป
-
Rabu, 12/06/2013 19:32 WIB
Opini
Kenaikan BBM, Mengapa Presiden Kurang Tegas?
-
Selasa, 11/06/2013 09:41 WIB
Pintu Masuk Korupsi
-
Senin, 10/06/2013 18:21 WIB
Taufiq Kiemas, Soekarno dan Muhammadiyah
-
Jumat, 07/06/2013 12:53 WIB
BBM Bersubsidi dan Sikap Ambivalen PKS
-
Selasa, 04/06/2013 14:03 WIB
Catatan Agus Pambagio
Atasi Pat Gulipat Cukai Rokok
-
Kamis, 20/06/2013 12:26 WIB
Respons Meyakinkan Serda Ucok Cs Setelah 2 Jam Berdiri Dengarkan Dakwaan
-
Kamis, 20/06/2013 11:52 WIB
Ahok Ganjar Juru Kunci Makam Tubagus Angke Hadiah Umroh
-
Kamis, 20/06/2013 13:47 WIB
Hendropriyono: Saya Bekas Prajurit, Saya Yakin Mereka Tidak Setolol Itu
-
Kamis, 20/06/2013 13:21 WIB
8 Fakta Kasus Cebongan
-
Kamis, 20/06/2013 12:45 WIB
Foto dengan Fathanah di Rutan, Sefti Mengaku Salah
-
Kamis, 20/06/2013 12:58 WIB
Foto Close-up Hingga Berjas, Ini Gaya Caleg Artis PAN di Daftar KPU
-
Kamis, 20/06/2013 13:01 WIB
Wasekjen PD: Sayonara, PKS!
-
Kamis, 20/06/2013 10:55 WIB
Sindiran Kocak Jokowi untuk Metromini dan Kopaja Buluk
-
435 Komentar
-
358 Komentar
-
223 Komentar
-
201 Komentar
-
195 Komentar
-
193 Komentar
-
183 Komentar
-
178 Komentar
-
Rabu, 19/06/2013 14:22 WIB
Penerus Mega di PDIP
Effendi Simbolon Buka-bukaan Soal Prospek Politik Prananda dan Puan
Prananda dan Puan Maharani disebut-sebut disiapkan menjadi penerus tahta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Anak kedua Mega, Prananda (43), diyakini sebagia pembawa ideologi kakeknya, Bung Karno.
ProKontra
Index »
Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Kamis, 20/06/2013 11:09 WIB
Kedatangan Komnas HAM Disoraki Massa Pendukung Kopassus
-
Kamis, 20/06/2013 11:06 WIB
Perusahaan Sawit yang Tercatat di Singapura Bantah Bakar Lahan di Sumatera
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer



_10.gif)










_3.gif)

Mudik selalu dirindukan bagi setiap perantau. Tak terkecuali bagi Dirjen Perhubungan Darat Soeroyo Alimoeso. Beliau curhat tentang dirinya yang tidak pernah mudik dan susahnya mengatur pemudik.
Giatnya Pemerintah memperjuangkan munculnya regulasi (Peraturan Menteri Perindustrian) tentang Low Cost and Green Car (LCGC) bersama-sama DPR-RI membuktikan bahwa Pemerintah sekarang tidak pro angkutan umum.

