Jumat, 29/06/2012 20:57 WIB
Pemerintah minta Aung San Suu Kyi gunakan nama Myanmar
Pemerintah Burma meminta kepada pemimpin oposisi Burma, Aung San Suu Kyi, agar menggunakan nama resmi negaranya sebagai Myanmar.
Negara itu mengganti nama menjadi Myanmar ketika masih berada di bawah kekuasaan militer pada tahun 1989 dan sejak saat itu mulai digunakan secara meluas.
Namun kelompok-kelompok oposisi menolak menggunakannya dan tetap menyebutnya dengan Burma sebagai tanda perlawanan terhadap rezim militer.
Sejumlah pemerintah dan organisasi media di negara-negara Barat -termasuk BBC- juga memilih untuk tetap menggunakan Burma.
Sementara organisasi internasional, seperti PBB dan ASEAN, sudah mengganti Burma menjadi Myanmar.
Dalam pernyataan yang diterbitkan harian The New Light of Myanmar -yang merupakan corong pemerintah- Komisi Pemilihan merujuk pada konstitusi negara.
"Seperti yang tertulis dalam konstitusi bahwa negara disebut sebagai Republik Persatuan Myanmar, tidak ada yang berhak menyebutnya Burma," tulis pernyataan itu.
Dalam kunjungan tersebut -antara lain ke Norwegia untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian- dia menyebut negaranya sebagai Burma.
Dia juga menggunakan Burma ketika berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia di Thailand pada tanggal 1 Juni, yang tampaknya membuat pemerintah Burma tersinggung.
Bagaimanapun juru bicara Partai Liga Nasional Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi, Nyan Win, menegaskan bahwa penyebutan Burma tidak bermaksud melecehkan konstitusi.
Pada saat pergantian nama, rezim militer Burma berpendapat Burma adalah peninggalan kolonialisme dan hanya mewakili kelompok suku Burma yang merupakan mayoritas di negara itu.
Namun sejumlah ahli Etimologi -ilmu yang mempelajari asal kata- maupun beberapa pihak lain berpendapat alasan yang diajukan rezim militer tersebut tidak tepat karena Myanmar dan Burma berasal dari akar yang sama, yang merujuk pada suku Burma- dan selama beberapa abad digunakan berselang-seling.
Aung San Suu Kyi diganjar dengan hukuman tahanan rumah selama 20 tahun lebih dan baru dibebaskan tahun 2010, setelah pemilihan umum yang mendorong terbentuknya pemerintahan sipil pertama yang didukung pihak militer.
(bbc/bbc)
Negara itu mengganti nama menjadi Myanmar ketika masih berada di bawah kekuasaan militer pada tahun 1989 dan sejak saat itu mulai digunakan secara meluas.
Namun kelompok-kelompok oposisi menolak menggunakannya dan tetap menyebutnya dengan Burma sebagai tanda perlawanan terhadap rezim militer.
Sejumlah pemerintah dan organisasi media di negara-negara Barat -termasuk BBC- juga memilih untuk tetap menggunakan Burma.
Sementara organisasi internasional, seperti PBB dan ASEAN, sudah mengganti Burma menjadi Myanmar.
Dalam pernyataan yang diterbitkan harian The New Light of Myanmar -yang merupakan corong pemerintah- Komisi Pemilihan merujuk pada konstitusi negara.
"Seperti yang tertulis dalam konstitusi bahwa negara disebut sebagai Republik Persatuan Myanmar, tidak ada yang berhak menyebutnya Burma," tulis pernyataan itu.
Nama suku mayoritas
Agaknya seruan ini keluar setelah Suu Kyi melakukan lawatan ke Eropa dan mendapat perhatian meluas dari berbagai media internasional.Dalam kunjungan tersebut -antara lain ke Norwegia untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian- dia menyebut negaranya sebagai Burma.
Dia juga menggunakan Burma ketika berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia di Thailand pada tanggal 1 Juni, yang tampaknya membuat pemerintah Burma tersinggung.
Bagaimanapun juru bicara Partai Liga Nasional Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi, Nyan Win, menegaskan bahwa penyebutan Burma tidak bermaksud melecehkan konstitusi.
Pada saat pergantian nama, rezim militer Burma berpendapat Burma adalah peninggalan kolonialisme dan hanya mewakili kelompok suku Burma yang merupakan mayoritas di negara itu.
Namun sejumlah ahli Etimologi -ilmu yang mempelajari asal kata- maupun beberapa pihak lain berpendapat alasan yang diajukan rezim militer tersebut tidak tepat karena Myanmar dan Burma berasal dari akar yang sama, yang merujuk pada suku Burma- dan selama beberapa abad digunakan berselang-seling.
Aung San Suu Kyi diganjar dengan hukuman tahanan rumah selama 20 tahun lebih dan baru dibebaskan tahun 2010, setelah pemilihan umum yang mendorong terbentuknya pemerintahan sipil pertama yang didukung pihak militer.
(bbc/bbc)
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Rabu, 22/05/2013 14:53 WIB
Paus Tidak Lakukan Pengusiran Setan
-
Rabu, 22/05/2013 13:52 WIB
Surat Wasiat dan Sandal Gandhi Dilelang
-
Rabu, 22/05/2013 13:43 WIB
Pria Perancis Bunuh Diri dalam Katedral Notre-Dame
-
Rabu, 22/05/2013 13:24 WIB
Kelly Rowland jadi juri X Factor AS
-
Rabu, 22/05/2013 12:03 WIB
Microsoft luncurkan konsol Xbox One
-
Rabu, 22/05/2013 18:48 WIB
Polisi Tetapkan Wabup Bogor Tersangka Video Porno, Diperiksa Kamis Besok
-
Rabu, 22/05/2013 19:21 WIB
Kepsek: Siswa Berani Ambil Risiko Saat Selamatkan Korban Perkosaan
-
Rabu, 22/05/2013 18:15 WIB
Ada Hubungan Apa Luthfi dan Darin Mumtazah? Ini Kata Dewan Syariah PKS
-
Rabu, 22/05/2013 19:05 WIB
Rumah Luthfi di Kebagusan Baru Berumur Sebulan
-
Rabu, 22/05/2013 18:36 WIB
Siswa SMP Heroik: Desa Saya Tak Boleh Jadi Tempat Perkosaan!
-
Rabu, 22/05/2013 19:34 WIB
172 Penumpang 2 Gerbong KA Serayu yang Anjlok di Garut Selamat
-
Rabu, 22/05/2013 19:13 WIB
Pensiun dari TNI, Jenderal Edhie Pramono Ingin Fokus ke Keluarga
-
Rabu, 22/05/2013 18:57 WIB
Ahmad Zaky: Saya Mau Kooperatif dengan KPK
-
489 Komentar
-
362 Komentar
-
240 Komentar
-
229 Komentar
-
216 Komentar
-
213 Komentar
-
211 Komentar
-
176 Komentar
-
Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,844.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Rabu, 22/05/2013 15:48 WIB
Gagalkan Upaya Perkosaan, 3 Siswa SMP di Bogor Dipuji Pihak Sekolah
-
Rabu, 22/05/2013 15:45 WIB
Fahri Hamzah: Darin Mumtazah Bagian dari Festival KPK
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

.gif)
Made Tantrawan (21), mahasiswa Fakultas MIPA UGM memiliki catatan prestasi yang luar biasa. Ia menjadi langganan juara olimpiade internasional dan kini lulus dengan sempurna. Apa resepnya?
Pembubaran partai politik memang dimungkinkan, namun masih utopis. Akhir-akhir ini, wacana pembubaran partai politik korup kembali menguat. Setidaknya ada tiga momentum yang mendorong wacana publik ini semakin menguat.
