Burma tidak akan rekrut lagi tentara anak
PBB mengatakan militer Burma masih rekrut anak sebagai tentara.
Burma menandatangani kesepakatan dengan PBB untuk tidak merekrut lagi anak sebagai tentara.
Dalam perjanjian yang ditandatangani di ibukota Naypyidaw hari Rabu (27/6), Burma juga mengizinkan PBB melakukan pengecekan keberadaan tentara anak di barak-barak militer.
"Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan unit-unit militer untuk mendata tentara anak, melepas mereka dari dinas militer, dan mengembalikan ke pihak keluarga," kata Ramesh Shrestha, perwakilan badan anak PBB (UNICEF) di Burma, seperti dikutip kantor berita AFP.
Shrestha mengungkapkan penandatanganan ini merupakan hasil dari perundingan dengan pemerintah Burma selama bertahun-tahun.
Ia menambahkan dengan adanya perjanjian ini, militer Burma tidak akan lagi merekrut anak sebagai tentara.
Diperkirakan ribuan anak menjadi tentara Burma dan anggota kelompok etnis bersenjata di negara tersebut, meski data pasti jumlah mereka sulit diperoleh.
Ditipu
"Salah satu kesulitan mendata tentara anak adalah minimnya akta kelahiran. Kadang, dokumen yang diserahkan ketika mendaftar menjadi tentara juga tidak asli," papar Shrestha.Laporan yang disusun PBB belum lama ini menyebut militer Burma dan enam kelompok etnis bersenjata terus mengambil anak sebagai tentara, termasuk Tentara Kemerdekaan Kachin di Burma utara.
Direktur organisasi sosial yang bergerak di bidang kesejahteraan anak, Save the Children, Kelland Stevenson, mengatakan sering kali anak-anak ditipu untuk menjadi tentara.
"Kita tahu kecil kemungkinan anak secara sukarela ingin menjadi tentara," ujar Stevenson.
"Mereka dibujuk untuk merantau dengan janji akan mendapatkan pekerjaan. Tapi yang terjadi adalah mereka didaftarkan menjadi tentara," katanya.
"Anak-anak yang menjadi korban biasanya berasal dari keluarga-keluarga miskin," jelas Stevenson.
Beberapa pihak mengatakan perjanjian dengan UNICEF adalah bagian dari upaya pemerintah Burma memperbaiki citra menyusul berakhirnya pemerintah militer tahun lalu.
Maret lalu Burma menandatangani kesepakatan dengan Organisasi Buruh Internasioanl untuk mengakhiri kerja paksa pada 2015.
(bbc/bbc)
-
Selasa, 21/05/2013 09:44 WIB
Apple penghindar pajak terbesar
-
Selasa, 21/05/2013 09:07 WIB
Presiden Obama puji pemimpin Burma
-
Selasa, 21/05/2013 08:26 WIB
Ray Manzarek meninggal dunia
-
Selasa, 21/05/2013 07:45 WIB
Topan tewaskan 10 orang di Oklahoma
-
Senin, 20/05/2013 22:34 WIB
Serangan teroris di Moskow digagalkan
-
Selasa, 21/05/2013 12:52 WIB
Ini Dia Darin Mumtazah, Pelajar yang Dekat dengan Luthfi Hasan
-
Selasa, 21/05/2013 13:22 WIB
Tetangga Lihat Luthfi Hasan Kerap Sambangi Rumah Darin dan Menginap
-
Selasa, 21/05/2013 13:52 WIB
Rambut Dibiarkan Terurai, Darin Sering Setir Mobil Sendiri ke Sekolah
-
Selasa, 21/05/2013 14:12 WIB
Ibunda Darin: Kok Nggak Istri yang Lain yang Dipanggil KPK?
-
Selasa, 21/05/2013 12:32 WIB
Abdul Kenal Wanita Pemotong Kelaminnya dari 'Salah Sambung' 4 Bulan Lalu
-
Selasa, 21/05/2013 12:48 WIB
PKS Diminta Dibubarkan, Anis Matta Angkat Bicara
-
Selasa, 21/05/2013 13:43 WIB
Kelamin Abdul Dipotong NN dengan Cutter
-
Selasa, 21/05/2013 13:10 WIB
Abdul Gauli Wanita Pemotong Kelaminnya 2 Kali
-
356 Komentar
-
235 Komentar
-
229 Komentar
-
210 Komentar
-
210 Komentar
-
207 Komentar
-
175 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
15 Tahun Reformasi
Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
- Rp 2,845.000
- Rp .000
-
Selasa, 21/05/2013 13:27 WIB
Tetangga Lihat Luthfi Hasan Kerap Sambangi Rumah Darin dan Menginap
-
Selasa, 21/05/2013 13:03 WIB
Ini Dia Darin Mumtazah, Pelajar yang Dekat dengan Luthfi Hasan
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks

.gif)
Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.
