Detik.com News
Detik.com
Rabu, 27/06/2012 11:10 WIB

Kisah Nenek Loeana, Jual Beli Tanah Berujung Ranjang Pesakitan

Gede Suardana - detikNews
Halaman 1 dari 2
 Kisah Nenek Loeana, Jual Beli Tanah Berujung Ranjang Pesakitan Loeana saat dihadirkan di PN Denpasar kemarin (gede suardana/detikcom)
Denpasar - Di usia senja, Loeana Kanginnadhi (sebelumnya ditulis Loena) terbelit masalah hukum. Berawal dari transaksi perdata, jual beli tanah, nenek berusia 77 tahun itu kini terbaring di atas ranjang pesakitan berhadapan dengan pengadilan dalam kasus tuduhan penipuan.

Kuasa hukum Loeana, Sumardhan menuturkan kronologi kasus ini kepada detikcom, Rabu (27/6/2012).

Loeana berpolemik dengan Putra Masagung. Kasus hukum diawali dengan transaksi jual beli tanah sementara seluas 30 ribu meter persegi di kawasan bukit Jimbaran pada tahun 2001.

Transaksi itu berjalan mulus. Masagung melunasi tanah seluas 14.160 meter pada tahun 2002. Pembayaran tahap kedua pada tahun 2004, Masagung melakukan pembayaran tanah seluas 7.200 atas nama PT Trisetya Balisaksi Development. Saat itu, sertifikat tanah sudah dipecah.

Sengketa pun terjadi. Masagung menggugat Loeana ke PN Denpasar atas perkara perdata jual beli tanah pada tahun 2008. Kasus perdata ini beralih ke kasus pidana ketika Masagung melaporkan Loeana ke Polda Bali pada tahun 2010.

Sejak itulah, nasib Loeana tak menentu. Ia sibuk berurusan dengan polisi dan jaksa. Ia mencoba melawan dengan melaporkan ke Mabes Polri. Polri pun memerintahkan Polda Bali menutup kasus itu karena bukan pidana, melainkan kasus perdata.

Polda Bali tak menggubris. Kasus laporan pidana terus berlanjut. Loeana ditahan Polda Bali. Setelah mengajukan dan memenangkan gugatan praperadilan, Loeana dibebaskan.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(gds/try)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%