Rabu, 27/06/2012 08:59 WIB
Kolom
Kalau Ikut Pemilihan Umum, Harus Siap Menerima Kekalahan
Sudah menjadi hal yang lazim di negeri ini, begitu selesai pemilihan umum, langsung diikuti dengan protes dan kegaduhan. Yang memprotes sudah jelas kelompok yang kalah. Yang menang tidak pernah ada yang memprotes, meskipun mungkin dia menyadari bahwa para pendukungnya telah berbuat sesuatu yang tidak pantas demi untuk memenangkannya.
Uniknya, protes itu selalu tentang kecurangan pemilu. Masih bagus, kalau itu disampaikan kepada Pengadilan atau kepada Mahkamah Konstitusi. Yang lebih sering, sebelum sampai ke MK, para pemrotes lebih dahulu singgah ke kantor KPU. Menyerbu dan merusak kantor KPU atau berkelahi dengan polisi yang menghalanginya. Seolah-olah kantor KPU itu adalah penyebab kekalahan mereka.
Semua orang tahu, pemilu adalah perlombaan untuk mendapatkan dukungan rakyat. Siapa yang mendapatkan suara lebih banyak, dialah yang menjadi pemenang.
Pemilu hanya menghitung jumlah suara tanpa ada klasifikasi dari para pemilih. Tiap pemilih memiliki satu suara. Tidak ada perbedaan antara suara rakyat awam dan buta huruf dengan suara Presiden. Tak ada perbedaan suara antara kelompok intelektual dengan kelompok orang bodoh. Karena itu, pertama, setiap calon harus mampu memperkirakan jumlah suara tiap lapisan yang paling mungkin mendukungnya.
Karena perbedaan jumlah suara pada tiap lapisan/ kelompok, maka tidak heran kalau ada calon yang dipandang sangat layak dan populer, gagal dalam pemilihan umum. Kepopulerannya mungkin hanya terbatas pada lapisan intelektual yang jumlahnya kalah banyak dengan lapisan buruh atau petani pendukung calon yang dipandang tidak layak dan kurang populer.
Kedua, kemampuan meyakinkan rakyat. Hal ini tidak mudah. Untuk mendapatkan simpati rakyat, mereka harus berada dihati rakyat. Mereka harus dekat kepada rakyat dalam waktu yang cukup lama. Tidak secara mendadak. Banyak orang yang menganggap rakyat mudah terpengaruh. Mereka berpendapat, rakyat cenderung memberikan suara kepada mereka yang lebih kaya atau yang lebih mampu membuat kemeriahan atau lebih banyak menghambur-hamburkan uang (money politic).
Akibatnya, banyak politisi karbitan berlomba melakukan korupsi untuk menjadi kaya secara cepat, dengan harapan mampu memenangkan pemilihan umum untuk jabatan publik yang lebih tinggi. Kemudian korupsi lagi untuk menjadi lebih kaya lagi guna merebut jabatan yang lebih tinggi lagi dan korupsi lagi dan seterusnya.
Ketiga, kondisi selalu berobah. Rakyat tidak selalu dapat dibodohi. Rakyat tidak selalu tega mengkhianati suara batinnya secara terus menerus. Kalau ada orang yang satu kali mampu mebodohi rakyat, harus menyadari bahwa kemungkinan untuk membodohi untuk kedua kalinya makin kecil atau tidak mungkin sama sekali. Rakyat banyak adalah orang miskin yang suara batinnya seringkali lebih nyaring berdetak dibandingkan dengan orang kaya yang batinnya lebih tumpul karena makanan yang tidak halal atau karena selalu dibuai dengan kemewahan.
Keempat, yang perlu disadari oleh para calon gubernur, calon bupati atau calon Presiden, bahwa besarnya probabilitas kalah selalu berbanding lurus dengan jumlah pasang calon. Sebaliknya, probabilitas menang dalam setiap pemilihan umum berbanding terbalik dengan jumlah pasang calon. Artinya, kalau ada tiga pasang calon, maka probabilitas untuk menang adalah 1/3, dan probabilitas kalah adalah 2/3. Kalau ada 5 (lima) pasang calon, maka probabilitas kalah adalah 4/5, sedangkan probabilitas menang hanya 1/5.
Makin banyak calon, makin kecil kemungkinan menang atau makin besar kemungkinan kalah. Karena itu dapat dipastikan, bahwa dari 6 (enam) pasang calon gubernur DKI yang akan bertarung pada pemilukada tahun 2012 ini, 5 (lima) pasang calon pasti akan kalah, hanya 1 (satu) pasang calon saja yang akan menang. Karena itu, kalau ikut dalam pemilihan umum, mereka harus siap untuk menerima kekalahan. Ketidak siapan untuk kalahlah yang telah menyebkan terjadinya kerusuhan di seluruh Indonesia dewasa ini.
Kelima, harapan rakyat kepada setiap calon yang menang di setiap tingkatan, untuk semua jabatan, pada semua pemilihan umum, untuk menyadari dengan sungguh-sungguh, bahwa mereka bukan hanya wakil dari satu golongan, tetapi wakil dari seluruh rakyat. Tanpa kesadaran itu, dia akan berbuat tidak adil atau mendhalimi rakyatnya sendiri. Ini berarti dia menciptakan momentum kejatuhan atau menggali kuburannya sendiri.
Keenam, kesadaran bahwa rakyat memilih bukan karena secara khusus mereka menginginkan dia berada disana, tetapi untuk berbuat sesuatu yang berguna untuk rakyat dan bangsa. Jika tidak mampu berbuat sesuatu yang monumental dan yang lebih baik bagi rakyat dan bangsa ini, silakan mundur. untuk memberi kesempatan kepada orang lain. Yang demikian itu lebih baik baginya, daripada harus mendapat caci-maki atau masuk penjara secara memalukan.
*) Said Zainal Abidin adalah ahli manajemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.
(vit/vit)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Polri Tugasnya untuk Kemanusiaan, Bukan Berbisnis!
812 share this. -
Duh! Gadis 16 Tahun di Australia Diperkosa Bergiliran oleh 3 Pria
570 share this. -
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
552 share this. -
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
527 share this. -
Ini 3 Hakim Agung yang Kalahkan Konglomerat Swedia Pemilik IKEA
417 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru
Indeks Kolom ยป
-
Rabu, 15/05/2013 10:33 WIB
Politik Bunuh Diri PKS
-
Senin, 13/05/2013 13:28 WIB
Penyitaan Mobil Mewah Elit PKS: Dapatkah Ditolak?
-
Senin, 13/05/2013 09:40 WIB
Catatan Agus Pambagio
e-KTP dan Kegalauan Publik
-
Selasa, 07/05/2013 15:42 WIB
BBM Bersubsidi, Kompensasi dan Dilema Pemerintah
-
Rabu, 01/05/2013 13:07 WIB
Jelang Pemilu 2014: Saatnya Menagih Janji Politik
-
Senin, 20/05/2013 19:23 WIB
KPK: Data Oknum PKS yang Terima Dana dari Fathanah Akan Dibuka di Sidang
-
Senin, 20/05/2013 20:27 WIB
Pesawat Malaysia Airlines Salah Mendarat di Bandara Kuala Namu
-
Senin, 20/05/2013 18:44 WIB
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 19:31 WIB
KPK Bidik Dugaan Korupsi Miliaran di Ditjen Kebudayaan Kemdikbud
-
Senin, 20/05/2013 18:46 WIB
Jadi Pasangan Capres? Ini Jawaban Jokowi dan Gita Wirjawan
-
Senin, 20/05/2013 20:07 WIB
Kabareskrim: Yang Ikut Menikmati Uang Aiptu Labora Bisa Dipidana
-
Senin, 20/05/2013 18:37 WIB
PPATK Temukan Aliran Dana Fathanah ke Oknum PKS Selain Luthfi
-
Senin, 20/05/2013 18:55 WIB
PPATK: Aiptu Labora Simpan Rp 500 M di Rekeningnya
-
353 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
213 Komentar
-
210 Komentar
-
209 Komentar
-
201 Komentar
-
198 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,837.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 17:12 WIB
Johan Budi: KPK Belum Peroleh Data Aliran Dana Fathanah ke PKS
-
Senin, 20/05/2013 17:00 WIB
Dituding Singkap Rok Siswi SD, FS Mengaku Bantu Bukakan Sepatu
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


.gif)





_5.gif)





Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

