detikcom
Jumat, 22/06/2012 09:06 WIB

Kolom Djoko Suud

PKB Eksodus

Djoko Suud Sukahar - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Bintang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai berhamburan. Berbagai partai memberi penawaran, dan berhasil menyodok satu demi satu sentra partai berlambang bintang sembilan ini. Bulan ini yang meloncat ke partai lain itu adalah PKB Kalimantan. Langkah itu akan diikuti PKB Sulawesi, Sumatera, Batam yang masih kisruh, serta Jawa. Untuk yang terakhir ini dimulai dari wilayah barat.

PKB rasanya belum siap menghadapi pemilu yang tinggal dua tahun lagi. Partai yang didirikan Gus Dur ini masih terlilit persoalan internal. Perbedaan paham masih sangat kental. Ditambah Ketum yang kaku dan tidak akomodatif menyebabkan perbedaan menjadi sesuatu yang sulit untuk dipertemukan.

Perpecahan itu dimulai dari penentangan Muhaimin terhadap Gus Dur. Konflik itu berdampak besar. Tidak hanya partai ini yang gonjang-ganjing, tetapi rasi keluarga saling berseteru, dan akar partai, para kiai, melakukan pseudo embargo. Menolak secara diam-diam penggalangan jaringan PKB yang semula subur di pesantren-pesantren.

Itu bisa dipahami. Sebab PKB didirikan Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren adalah basis massa partai ini. Para kiai motor penggerak nya. Itu fakta kunci yang mempercepat PKB besar dan tampil sebagai partai yang sangat diperhitungkan. Kala itu PKB merupakan 'partainya' orang NU. 'Induk' (NU) serta sayap-sayapnya (Ansor, Fatayat, Muslimat, dan PMII) terkoordinasi rapi sebagai bagian inheren PKB.

Namun sejak konflik itu PKB kehilangan segalanya. Partai hancur berkeping-keping dan kehilangan kendali. NU tidak lagi merasa memiliki PKB. Ansor entah sekarang milik partai mana. Juga Fatayat dan Muslimat. Jangan heran jika saat demo kenaikan BBM tempo hari, bendera PMII dikibarkan sebagai penentang nomor wahid. Padahal PKB pendukung pemerintah.

Di pesantren-pesantren juga kondisinya sama. Para kiai 'membentengi' diri agar tidak dimasuki PKB. Para sesepuh, pendiri dan pendukung utama PKB itu belum bisa menerima sikap Muhaimin yang tak kunjung instrospeksi atas perbuatan yang pernah dilakukannya. Ini alasan Suryadharma Ali dari PPP diterima di pesantren, tahun lalu, kendati dikemas sebagai silaturahim.

Denyut PKB makin mengecil. Faksi lain, Yenny Wahid anak biologis Gus Dur dinamis merancang berbagai skenario. Anak ideologis Gus Dur (Gusdurian) menunggu dan menunggu seraya ngemong (merawat) para jamaahnya agar tidak gampang berpindah ke lain hati. Sisi lain, Muhaimin tetap tenang-tenang saja seperti nakhoda yang sedang menunggu kapalnya tenggelam.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(vit/vit)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
69%
Kontra
31%
MustRead close